Pages

Pages

Pages - Menu

Selasa, 14 Agustus 2012

Nostalgia....

Daiyah Khairunnisa alias Dey, dikenal sebagai seorang aktivis dakwah yang berprinsip. Ketika baru saja naik ke kelas 3 SMA Citra Negeri di Palembang, sahabatnya, Bella, berusaha menjodohkan Dey dengan Sir Fatah, guru Bahasa Inggris mereka yang baru dan masih muda. Dey tak memedulikannya. Berbeda dengan Bella yang sering bergonta-ganti pacar, salah satu prinsip Dey adalah tidak berpacaran karena tidak ada konsep pacaran dalam Islam. Sir Fatah sendiri ternyata adalah lulusan pesantren di Jawa Timur dan sempat mengajar di beberapa pesantren. Ia pun pernah mengikuti studi pertukaran mahasiswa di Universitas Islam di Islamabad.

Karena keadaan darurat dan tidak ada pilihan lain, suatu malam sekitar pukul setengah sebelas, Dey terpaksa berboncengan motor dengan Sir Fatah untuk pulang ke rumah. Ternyata peristiwa itu merupakan siasat Bella untuk menjodohkan Dey dengan Sir Fatah. Baik Dey maupun Bella tidak menyangka bahwa kejadian itu akan berakibat buruk. Di hari-hari berikutnya, Dey menjadi topik utama gosip terbaru dan terkejam di SMA mereka: ia sebagai anak Rohis diberitakan memiliki kedekatan istimewa dengan Sir Fatah, gurunya sendiri.

Lama kelamaan, Dey dan Sir Fatah sama-sama menyadari dan mengetahui bahwa mereka menyimpan perasaan yang sama, yaitu cinta. Cinta yang belum tepat waktu, yang belum halal di mata Allah. Keteguhan prinsip dan iman memaksa keduanya untuk berjuang mengendalikan perasaan itu. Keduanya lalu memutuskan untuk mengingkari perasaan masing-masing dan saling menjaga jarak. Itulah jalan satu-satunya ketika menikah menjadi pilihan yang sama sekali tidak mungkin terjadi. Hingga pada suatu hari, Dey merasa terguncang saat terdengar kabar bahwa Sir Fatah akan menikah. Dey berusaha untuk tidak memikirkannya dan memfokuskan diri pada persiapan ujian akhir.

Sebagai satu langkah dalam proses melupakan kisahnya dengan Sir Fatah, Dey memutuskan untuk kuliah di Bandung, tepatnya di Unpad. Dalam perjalanan dari Palembang menuju Bandung, Dey berkenalan dengan George alias Jo, seorang lelaki teman sebangku Dey di bus. Jo berprofesi sebagai wartawan di Jakarta dan berumur beberapa tahun lebih tua dari Dey. Sepanjang perjalanan, dengan caranya yang unik dan sederhana, Jo berusaha menghibur Dey yang masih merasa kacau. Sebelum berpisah, Jo memberikan kartu nama adik perempuannya di Cirebon supaya Dey bisa menghubungi adiknya.

Sambil menunggu hasil tes SPMB, setelah bertualang ke tempat-tempat tertentu di Bandung, Dey pun berencana mengunjungi Alessandra alias Ale, adik Jo, di Cirebon. Sesampainya di Cirebon, Dey bertemu kembali dengan Jo. Di sana, Jo mengungkapkan isi hatinya bahwa ia bersimpati pada Dey. Kaget dengan pernyataan Jo, Dey segera pulang ke Palembang tanpa berpamitan terlebih dulu pada Jo. Jo mengejarnya, bahkan mengatakan bahwa ia akan menemui Hidayat, kakak Dey, untuk menunjukkan keseriusannya.

Ternyata Jo tidak main-main. Jo bertamu ke rumah Dey, menemui Hidayat, dan memberitahu kakak Dey itu bahwa ia memiliki misi untuk menjadi seorang muslim yang baik, cerdas, dan taat. Semua proses perbaikan diri itu dilakukan Jo terutama agar ia bisa melamar Dey di kemudian hari. Dey merasa bimbang, apalagi ketika mendengar kabar dari sahabat Rohis-nya di SMA, Deswita, tentang Sir Fatah yang tidak jadi menikah. Alasannya pun sangat mengejutkan, yaitu karena Sir Fatah memilih untuk berjihad sebagai panglima Allah ke negeri konflik Palestina. Ketika menghadiri pernikahan Hidayat, Dey bertemu lagi dengan Sir Fatah. Perjuangannya di Palestina ternyata telah menyebabkan Sir Fatah harus merelakan kaki kanannya.

Pada akhirnya, Dey diharuskan untuk memilih. Ia terjebak dalam lingkaran cinta tiga orang laki-laki: Jo, lelaki dewasa yang mapan dan serius memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan-Nya; Reno, teman Dey di Rohis SMA dulu yang walaupun masih kuliah, tetapi telah memiliki pekerjaan dan siap menikah; serta Sir Fatah, masa lalunya yang kembali hadir kini. Siapakah yang akan Dey pilih?


***

Itulah garis besar cerita dalam novel "Birunya Langit Cinta" buah karya Azzura Dayana. Tapi bukan sekedar kisah cinta yang ku simak disana, namun kisah lain tentang pribadi seorang Daiyah Khairunnisa...

Jauh dari hari ini, mungkin sekitar akhir tahun 2008, ketika novel selesai dibaca.. Dan hati begitu tersentuh dengan kebiasaan Dey yang saanggaat tidak biasa menurutku... Hebat! bahkan sempat terbayang dalam anganku adegan di kafe sekolah Dey terjadi pada diiriku....


"Loe nggak lagi puasa kan??? Kemaren kan Loe udah puasa Dey, berarti sekarang nggak kan..."

"Iya, aku nggak sedang puasa sekarang. tapi aku lagi malas makan aja... Aku nemenin aja ya..."

Kira-kira itu dialognya...


Hingga akhirnya aku tergerak untuk mengikuti kebiasaan itu, tapi sendiri rasanya beraat. Aku takut berhenti ditengah jalan..


Angkot merah, sore hari setelah pulang sekolah. Aku membuat janji dengan wanita berjilbab putih yang senantiasa tersenyum,duduk dihadapanku...

Hari itu kami mengikat sebuah janji, Alhamdulillah sampai saat ini kami tetap istiqomah. Meski pernah kami berhenti, tapi lanjut lagi karena cinta besar kami pada Allah..

Aku mau bangeett masuk Syurga lewat pintu Ar-Royan...


"Adek2, cobalah mulai hari ini buatlah amalan-amalan khusus yang membuatmu berbeda dengan muslim/ah lainnya.. Buatlah ibadah khusus yang membuatmu berbeda di mata Allah.." ujar Mbak Indah di suatu kali dalam lingkaran kecil kami.. Mesjid Irsyadiyah menjadi saksi bisu pertemuan kami setiap minggu...


***

Novel ini pula yang telah membuat hati seorang Hawa berhasil terpaut ikhlash pada Pemilik Cinta Hakiki, hingga dia berhasil menjadi salah satu siswa yang lulus dari SMA Unggul di Bumi Rafflessia itu...

***

Aku ingin seperti dulu..
Hari-hari yang tak pernah lalai...
Hari-hari penuh semangat saat hidayah menghampiriku...
Mengkaji Al-Qur'an bersama....
Saling menyemangati dalam menambah hafalan dan mengamalkannya...
hari-hari saat hati hanya dipenuhi oleh Allah...Allah...Allah...
***
Istiqomahnya Mbak Indah mempertahankan jilbabnya saat darah segar mengubah jilbab putih jadi merah..
Senyum tulus Mella diantara kisah sedihnya saat berpisah dengan ayah tercinta...
Sabar dan tabahnya Rinti dalam menjaga hati dan menghibur akhwat manja ini...
Semangat Ria untuk sentiasa mengajakku istiqomah diperantauan ini...
Keaktifan Nabel untuk terus berusaha menjadi akhwat tangguh dikala keluarga tak mendukung keinginan besarnya...
Kebaikan Friska dan kenekatannya menerobos hujan deras hingga kecelakaan di lampu merah menjadi kisah unik tersendiri dalam catatan hidup kami...
Kedewasaan pribadi Inung yang harus memilih mengaji atau menjaga adik-adiknya...
Dalam diamnya Nurul yang menyimpan seribu impian untuk melanjutkan studi ke kampung halamannya,Jawa...

Dan semua teman-teman XE,XI IPA 4,XII IPA 3... Selama berada di kelas unggul itu banyak orang-orang berpikiran positif dan mengalirkan energi positif hingga kami berhasil membuat sekolah bangga..

Memberi puluhan piala dan prestasi...
Sungguh, aku tak pernah mengira bisa menjadi salah satu siswa yang menyumbangkan piala.. Dan bisa mewakili sekolah hingga ke tingkat provinsi...

Semua karena Allah sayang Septri....

***
Miss You, Mbak Indah, Mella, Rinti, Ria, Nabel, Friska, Inung, Nurul,..Al-Hurrin'in... Smanlie...Risma Surya Ramadhan...Mbak Keke, mbak Vivi, Mbak Kimlin, Bang Ghufron,Bang Agung, bang Anjas,...Umi,Anggi,Bella, Sarah,,ah...kapan kita bisa berkumpul seperti dulu....

Izinkan aku membuat novel dengan kehadiran nama-nama kalian...Saudaraku seiman...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar