Saat diri bersedih,duduk diam di dalam angkot lurus.. Saat itu hati benar-benar iri, menanggapi pesan singkat dari ukhti-ukhti shalihah, yang mengajak diri ber-i'tikaf bersama mengisi 10 malam terakhir di bulan Ramadhan...
Aku iri, pada mereka yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mengisi malam-malam mereka dengan sujud bersama, mendengarkan ceramah, memenuhi langit-langit mesjid dengan suara-suara merdu lantunan ayat suci Al-Qur'an...
Bukan aku tak mau, tapi keadaan yang tidak mengizinkanku.. Karena kali ini pun "tamu bulanan itu" hadir di 10 malam terakhir bulan Ramadhan...
Hati bertambah sedih ketika seorang saudara seiman mengirimi pesan...
Ramadhan datang, berjalan, dan akan pergi bukan dari kehendak manusia...Untuk semuanya hari-hari Ramadhan yang tersisa ini ditambah kemuliaan malam 1000 bulan... Lingkungan mempengaruhi. Semoga kita bukan termasuk orang yang di aamiinkan Rasulullah ketika malaikat Jibril berdo'a merugilah orang yang telah melalui Ramadhan tapi tidak mendapat ampunan dari Allah...
Sungguh sedih hati ini bertambah-tambah.. Aku iri pada dirinya yang tak punya udzur, punya lingkungan yang baik, bisa i'tikaf 10 malam penuh tanpa halangan dan hambatan.. Tapi kami, para muslimah yang mendapat "tamu bulanan" tak diizinkan untuk i'tikaf layaknya kaum adam.. atau tak seberuntung kaum hawa yang tak didatangi "tamu bulanan" di 10 malam terakhir ini..
Kesedihan ini tak boleh berlarut-larut.. Segera kutepis pikiran negatif itu. Tak layak aku kufur terhadap nikmat Allah yang satu ini. Ada banyak wanita yang tak didatangi "tamu" ini teratur di tiap bulannya, bahkan ada yang tidak didatangi sama sekali hingga harus mengeluarkan biaya berjuta-juta untuk bisa mendapatkannya... Alhamdulillah, aku harus bersyukur...
Di 10 malam terakhir, mencari amalan pengganti yang masih bisa dilakukan...
***
Perjalanan memenuhi undangan dan menepati janji, semoga ini menjadi salah satu ibadah yang bernilai tinggi di hadapan Allah... Menunggu kehadiran teman, dan tak lama teman pun datang dengan Vario Merahnya.. Menerobos jalanan.. Mampir ke toko pakaian muslim/ah... Ya, perjalanan dalam rangka meningkatkan Ukhuwah Islamiyah...
Ramai yang datang, tapi tak seramai ketika diri masih menjadi mahasiswi tingkat satu...
Dulu banyak akhwat dan ikhwan yang datang, jilbab lebaar berseliweran.. Tapi kini sedikit sekali yang datang.. Dalam pikiranku, mungkin mereka sedang i'tikaf sekarang jadi tidak bisa menghadiri agenda tahunan fakultas malam ini.. (Semakin bertambah sedih dan iri diri ini). Sungguh jika boleh memilih aku juga ingin i'tikaf malam itu.. Tapi Allah masih belum mengizinkan..
***
Sendirian berdiri di dekat tiang kanan pintu masuk..
Seorang adik menatap ragu ke arahku, seraya memastikan bahwa wanita berjilbab merah di depannya itu benar-benar aku..
Tempat aku berdiri agak gelap, mungkin karena itu dia ragu.. Tapi setelah memastikan dia tidak salah orang, akhirnya dia memutuskan untuk menyapaku..
Cowok tinggi berbaju koko warna hijau lumut itu mendekatiku... Menyapaku hangat..
"Kak, Septri..!"
"....(menyebut namanya) nggak sombong kan Kak...??"
Ya, dia nggak sombong... Tapi kali ini lagi-lagi dia membuatku kaget.. Ikhwan yang berani...
Aku pun tak menyangka dia berani mendekatiku, pemuda dari Serambi Mekah ini begitu ramah.. Agak canggung juga ngobrol berdua dengannya.. Ya, Hanya berdua.. Apa kata orang nanti???
Obrolan seputar kabar,candaan seorang "adik", tentang Aceh, memori masa lalu, dan diakhiri dengan undangan rapat..
"Besok ada rapat KBMF Kak....Ehmm,Kakak sibuk ya..??" belum sempat aku menjawab dia sudah melanjutkan lagi kata-katanya.."Hupf, pasti sibuk kan..."
"Ehmm,.."sambil berpikir,"Ehm,,yaa.. Sepertinya kak kuliah besok.."
Sekilas tampak gurat kecewa di wajahnya, meski dia tetap tersenyum ramah..(Setelah itu aku pun menunduk lagi)..
"Ya,..nggak apa-apa.. tapi kalau nggak sibuk datang ya Kak.." ujarnya lagi sambil tersenyum...
"Nggak tarawih???" pertanyaan yang kuajukan ke setiap adik yang mendekatiku malam itu.. Dan seperti adik-adik yang lain dia hanya bisa terdiam, dan sedikit menyalahkan panitia karena agenda malam ini yang diwajibkan untuk mereka...
Aku ingin kamu merubahnya... Ketika tahun depan kamu menjadi panitianya...
***
Sebisa mungkin aku harus terus tersenyum, seolah aku bahagia.. Padahal aku sangat amat sedih malam itu... Mengingat kembali saat diri ini menangis di bangku peserta RBF di ruangan yang sama kira-kira 3 tahun yang lalu... Karena malam yang seharusnya kulewati dengan Isya dan Tarawih berjama'ah, mendengarkan ceramah Ustadz, lalu membaca Al-Qur'an malah kulewati di tempat ini dengan acara yang menurutku (waktu itu) tidak bermanfaat.. Aku nggak suka...
Dalam diam di tempat dudukku, terus berusaha berpikir positif.. Dan memikirkan bagaimana merubah acara ini menjadi sebuah acara yang benar-benar bermanfaat... Bukan sekedar acara tak bermutu di malam-malam bulan Ramadhan..
Hati terus bertanya, diridhoikah acara ini oleh-Mu, Ya Robb???
***
Di sela teriakan histeris peserta,panitia dan tamu undangan...
Terdengar suara imam menggema..
Allahu Akbar..!
Di seberang gedung itu, umat Islam sedang sujud berjama'ah menghadap Rabbnya.. Bersimpuh di atas sajadah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar