Hari sudah tampak gelap ketika bapak menghentikan motornya di
sebuah kedai di pinggir pantai desa itu. Ku pikir bapak mau makan, tapi tidak.
Bapak bilang dia sedikit ngantuk. Jadi istirahat dulu. Aku paham, perjalanan
dari kampung bapak ke kota memang jauh. Enam jam perjalanan bawa motor bukan
hal yang mudah. Belum lagi ditambah hambatan di jalan. Ah, aku yang hanya
menumpang di balakang bapak pun berasa sangat lelah. Ngantuk.
Langit mendung, gelap. Tanda-tanda
mau hujan. Kami berteduh di bawah pondok. Tepatnya kedai yang ditinggal
pemiliknya. Bapak menyodorkan selembar uang sepuluhribuan padaku. Menyuruhkun
membeli minuman. Kubeli beberapa botol minuman ringan. Lalu kusodorkan ke
bapak. Tapi bapak menolak dan malah menyuruhku menghabiskannya saja. Ternyata
bapak bukannya mau minuman tapi bapak mau anaknya ini minum mungkin karena
dilihatnya aku sepertinya lelah dan haus. Padahal aku sama sekali nggak haus,
tapi lelah iya. Minuman-minuman itu hanya bermain-main saja di tanganku.
Tiba-tiba gerimis lalu tak sampai
satu menit hujan semakin lebat, di tambah lagi badai. Sebuah motor berhenti
didekat kami. Pengemudi dan penumpangnya turun dan masuk ke pondok tempat kami
berteduh. Bapak mempersilakan kedua orang itu duduk di sebelahnya . Sementara aku sedikit bergeser ke pinggir
pondok. Ku tatap tetes-tetes hujan yang berjatuhan dari pinggir atap pondok.
Diam.
Bapak menyerahkan jaket anti
hujannya untuk kupakai. Padahal aku sudah pakai baju panjang di tambah jaket.
Aku menolak. Kasihan bapak pikirku. Tapi bapak terus memaksa, kata bapak dia
cukup pakai jas hujan saja. Tak lama dikeuarkannya jas hujan dari bawah jok
motor. Hari semakin gelap. Walau hujan belum reda, tapi bapak memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan. Takut kemalaman. Hari sudah menunjukkan pukul enam
sore, itu artinya jika kami harus
menempuh jarak sekitar tiga jam lagi maka kami baru samapi ke kota sekitar
pukul sembilan malam.
Menerobos hujan, bapak mengendarai
motor pelan. Aku yang ada di belakang saja mengigil kedinginan lalu bagaimana
dengan bapak yang ada di depan tanyaku. Kasian bapak.
Sesekali bapak bertanya, mau durian
atau mau sate. Beberapa kali pula aku menolak karena tak enak hati sama bapak.
Tapi aku galau juga. Jangan-jangan yang mau sate sama durian tu bapak. Mungkin
bapak lapar. Tapi kalau kami banyak-banyak singgah itu artinya akan lama pula
kami sampai ke kota. Bapak baru saja akan menghentikan motornya, namun aku
langsung minta bapak jalan saja. Ah, aku ini bagaiman sih. Bapak kan sudah
berniat baik tapi malah aku tolak. Tapi tawaran terakhir bapak untyuk singgah
di rumah makan padang tak bisa aku tolak. Hari sudah menunjukkan pukul delapan
malam. Jam-jam makan malam. Ku rasa bapak lapar. Aku iyakan saja ajakannnya.
Bapak memesan makanan, lalu
mengajakku duduk di kursi yang telah disediakan. Kami duduk berhadapan. Ini
kali pertama aku makan berhadapan dengan bapak, di rumah makan pula. Kami
jarang makan bersama seperti ini. Di rumah pun aku biasa makan di depan
televisi sementara bapak makan di meja makan. Bapak makan lahap sekali.
Akhirnya bapak bisa makan lahap lagi setelah beberapa bulan terakhir cara makan
seperti itu tidak kulihat lagi sejak ibu “pergi”.
Bapak, jasamu tak terbalas.
Tangan-tangan yang dulu kokoh berotot itu semakin kurus saja. Hitam terbakar
matahari. Berkarung-karung biji kopi bapak angkat sendiri dari tengah kebun
yang jarankanya berkilo-kilo sampai ke halaman dangan. Kerjamu belum selesai,
biji-biji kopi itu masih harus dijemur lagi kira-kira dua minggu. Pekerjaan
berat. Caramu mencari nafkah, membuat
hatiku bergidik akdang perih hati ku rasa.
Bapak, aku ingin menabung supaya
kita bisa tawaf sama-sama di ka’bah, sujud sama-sama di masjidil haram. Aku
ingat bapak membeli lukisan Ka’bah yang sedang dikelilingi jutaan orang,
terpajang di ruang nonton. Bapak, do’akan agar kita bisa ke sana sama-sama,
ya.. aamiin.
Tiga puluh menit kemudian makanan
kami pun habis. Kami pun melanjitkan perjalanan kembali. Hujan sudah lama
berhenti. Bapak melepas jas hujannya. Aku pun melepas jaket bapak yang kupakai
dan menyerahkannya ke bapak. Walau bapak sempat menolak tapi aku tetap memaksa.
Akhirnya bapak mau juga memakai jaketnya kembali. Senyumnya tegas.
Itulah kisah perjalanan panjangku
bersama bapak. Dari Padang guci ke Bengkulu jam 15.30-22.00 WIB. Di bawah
guyuran hujan dan malam yang dingin.
Bapak, we LOVE you forever...
Teruntuk my single parents...
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar