"masih ada beras??" tanya ayah tepat sebelum travel jurusan padang itu menjemputku..
pukul sembilan pagi, aku ayah dan ibu duduk di ruang tamu. Mereka menunggu bus yang akan membawaku kembali menuntut ilmu di negeri orang. Ya, kami hanya duduk2 saja. Hingga pertanyaan itu terlontar dari mulut ayah.
"ehm,nanti dibeli aja di Padang,.." senyumku..
"bawa aja ini,." kata ayah sembari mengeluarkan sekarung beras dari kamar yang ada di sebelah ruang tamu. aku tahu itu beras kakak pertamaku, sengaja ditinggal nanti dijemput suaminya. Tentu ku tolak.
"Tidak apa2, nanti ayah bayar ke kakak.." ayah tetap saja bersi keras.
'ehmm... tapi kebanyakan Yah nanti berkutu.." tolakku lagi..
"yahh..bawa dikit aja kalau begitu.."kata ayah akhirnya. Ibu buru2 ke belakang mengambil beberapa plastik untuk menampung beras.
perlahan ayah pindahan beberapa canting beras dari karung ke plastik..wah,banyak pikirku dalam hati. kakak marah nggak ya???
melihat ayah begitu hatiku sedih teringat kembali saat kami masih punya sawah, saat tahun satu tahun dua sebelum ibu wafat, ibu selalu menyiapkan sekarung beras untuk ku bawa ke padang.. jatah makan satu semeter kadang lebih karena aku jarang makan..
"makan yang banyak, kalau uang habis kabari ya.. atau pinjam ke tante kalau ayah belum punya uang.." kata ayah sambil mengikat plastik beras..
"iya..." aku sedih..betapa susah ayah mencari uang untukku..tapi sering sekali aku menyia-nyiakan perjuangannya...Ayah,maaf..
Pages
▼
Pages
▼
Pages - Menu
▼
Selasa, 29 Januari 2013
Rabu, 23 Januari 2013
Sebelum ia datang menjemput
apa yang kamu pikirkan jika melihat gambar ini????
tua..penuaan...setiap orang pasti mengamlaminya,kecuali jika ajal telah tiba sebelum tua merajalela.... yang menjadi pikiran setiap kali hendak mengerjakan tugas kosmetologi ini (anti-aging), diri ini selalu di bawa pada suasana kelam...setiap guratan ketuaan akan datang..bukan karena takut kecantikan akan hilang..bukan... tapi, sudah sejauh mana aku mempertanggungjawabkan setiap guratan itu....
Kematian itu pasti, tapi yang harus dipikirkan bukanlah akhir dari kehidupan itu, melainkan proses..seperti apa kita melalui setiap tahap kehidupan...sudahkah selama ini setiap detak nadi setiap hembusan nafas mengalir bersama Allah...????
Berpikir..
Thinking...
Sebelum kematian datang menghampiri....
tua..penuaan...setiap orang pasti mengamlaminya,kecuali jika ajal telah tiba sebelum tua merajalela.... yang menjadi pikiran setiap kali hendak mengerjakan tugas kosmetologi ini (anti-aging), diri ini selalu di bawa pada suasana kelam...setiap guratan ketuaan akan datang..bukan karena takut kecantikan akan hilang..bukan... tapi, sudah sejauh mana aku mempertanggungjawabkan setiap guratan itu....
Kematian itu pasti, tapi yang harus dipikirkan bukanlah akhir dari kehidupan itu, melainkan proses..seperti apa kita melalui setiap tahap kehidupan...sudahkah selama ini setiap detak nadi setiap hembusan nafas mengalir bersama Allah...????
Berpikir..
Thinking...
Sebelum kematian datang menghampiri....
Sabtu, 19 Januari 2013
Kiat-kiat Menuntut ilmu Syar'i
Kiat-kiat dalam menuntut ilmu syar'i itu sangat banyak, tapi berikut ini beberapa kiat yang bisa dijelaskan pada kesempatan kali ini.
1. Hendaklah kita meng-IKHLAS-kan niat dalam menuntut ilmu syar'i.
Amirul Mukminin Abi Hafsh Umar bin Khatab ra. berkata, Aku, mendengar Rasulullah saw. Bersabda,
"Sesungguhnya amala perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa hijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan." (HR.Bukhari dan Muslim).
2. Mengetahui bagaimana semangat ulama salaf dalam belajar. Baca kisah-kisah para Nabi (Ibrahim, Yusuf, Nuh, dll).
3. Mengetahui urgensi/tujuan mempelajari ilmu syar'i.
Banyak sekali keutamaan-keutamaan ilmu. Ilmu lebih mulia daripada harta. Orang yang berilmu derajatnya lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak berilmu.
4. Menghindarkan penyebab-penyebab kemalasan menuntut ilmu.
- Jika mengantuk maka wudhu'lah
-Apabila malas membaca, maka ubah posisi atau pindah tempat, menghirup udara segar, jalan-jalan dulu,dll.
-Jika bosan membaca, ganti dengan mendengar murottal atau radio atau rekaman kajian.
5. Mengetahui bagaimana para salaf merasa rugi dan menangis bila tidak mendapatka ilmu.
6. Mengetahui pengorbanan para salaf sampai2 mereka menjual baju mereka untuk menuntut ilmu.
7. Ilmu syar'i sebagai sarana/senjata menghadapi ujian di jalan Allah.
8. Mengetahui bahwa ulama salaf meninggalkan tidur untuk ilmu.
9. Menjauhi pergaulan dengan pemalas dan pengangguran.
10. Mengetahui cintanya para ulama salaf terhadap buku.
buku adalah guru yang tidak pernah malas
buku adalah teman dalam kesendirian
ikatlah ilmu dengan tulisan
Itulah beberapa kiat yang bisa dibagi. semoga bermanfaat... :)
1. Hendaklah kita meng-IKHLAS-kan niat dalam menuntut ilmu syar'i.
Amirul Mukminin Abi Hafsh Umar bin Khatab ra. berkata, Aku, mendengar Rasulullah saw. Bersabda,
"Sesungguhnya amala perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa hijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan." (HR.Bukhari dan Muslim).
2. Mengetahui bagaimana semangat ulama salaf dalam belajar. Baca kisah-kisah para Nabi (Ibrahim, Yusuf, Nuh, dll).
3. Mengetahui urgensi/tujuan mempelajari ilmu syar'i.
Banyak sekali keutamaan-keutamaan ilmu. Ilmu lebih mulia daripada harta. Orang yang berilmu derajatnya lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak berilmu.
4. Menghindarkan penyebab-penyebab kemalasan menuntut ilmu.
- Jika mengantuk maka wudhu'lah
-Apabila malas membaca, maka ubah posisi atau pindah tempat, menghirup udara segar, jalan-jalan dulu,dll.
-Jika bosan membaca, ganti dengan mendengar murottal atau radio atau rekaman kajian.
5. Mengetahui bagaimana para salaf merasa rugi dan menangis bila tidak mendapatka ilmu.
6. Mengetahui pengorbanan para salaf sampai2 mereka menjual baju mereka untuk menuntut ilmu.
7. Ilmu syar'i sebagai sarana/senjata menghadapi ujian di jalan Allah.
8. Mengetahui bahwa ulama salaf meninggalkan tidur untuk ilmu.
9. Menjauhi pergaulan dengan pemalas dan pengangguran.
10. Mengetahui cintanya para ulama salaf terhadap buku.
buku adalah guru yang tidak pernah malas
buku adalah teman dalam kesendirian
ikatlah ilmu dengan tulisan
Itulah beberapa kiat yang bisa dibagi. semoga bermanfaat... :)
Jangan macam-macam! Jaga diri!
Pesan singkat, yang hanya bisa di sampaikan lewat kata2.. Kenapa, apakah diri ini terlalu keras jika di nasehati langsung? Mungkin iya...
Jangan macam-macam. Kemarahan yang mendalam, kekecewaan yang mata sangat dari dia yang menyayangiku dan selalu menjadikanku tempat untuknya meminta saran.. Tapi kini,bukankah diri ini sudah tak pantas lagi menjadi teladan??
Seharian yang membuatku canggung. Tak ada tegur sapa. hanya pesan2 singkat berisi nasehat yang lebih terdengar sebagai tanda kekecewaan..
Jaga diri. Masih ada sayang disana, di hatinya. Meminta untuk menjaga diri sendiri. Ya, karena jauh di sini, di tempat ini siapa lagi yang bisa menjaga diri ini kalai bukan diri sendiri. Selalu meminta kekuatan kepada Sang Khalik untuk bisa menjaga hati ini tetap terpaut pada-Nya...
Nak,..! Wajah lelah yang selalu dipaksa tersenyum di depan anaknya. Aku tahu telah banyak usahanya untuk membesarkanku.. Tak ada rasa bosan, walau jasanya belum terbalas bahkan mungkin tak akan pernah bisa di balas. Tak hendak mengecewakannya.. Tenggorokan selalu tercekat, tertahan menahan haru atas penderitaannya. Kapan dia bisa istirahat menikmati masa tuanya dan aku menggantikannya mencari uang???
Sore kelam di ruang tamu.. Udara sore yang sejuk.. Buku tebal bertuliskan Armageddon masih di tangan. Baru saja membuka beberapa lembarannya melanjutkan bacaan tiba2 ibu datang menghampiri.. Tersenyum lalu duduk di sebelahku. Tak ada tema. Cerita mengalir begitu saja. kadang diselingi tawa karena cerita yang lucu. Atau terdiam karena terharu... Tapi ibu, ibu yang polos. Kisah hidupnya menyimpan banyak rahasia dan kejutan. Aku belajar, tentang perjuangan hidupnya...
Motor itu melaju kencang, tapi tak lama berjalan pelan.. Hingga akhirnya berhenti. Mampir. Memasuki areal pekuburan massal. Tepat di bawah kamboja putih tubuhnya bersemayam. Peristirahatan terakhir sebelum perkumpulan di Padang Mahsyar.. rumput2 liar kembali menyelimuti kuburan itu. Satu persatu rumput kami cabuti. Sambil berbisik Kakak mengajak bicara jasad tak bernyawa di dalam tanah sana. aku hanya terdiam saja sambil terus mencabuti rumput yang tumbuh di atas kuburan itu..
Pegi pagi pulang sore bahkan malam.. Semua karena tugas yang menumpuk.. Aku mau membantunya.. Kuliahnya harus selesai...
Semua...aku menyayanginya.. Ya, aku tak mau macam2.. aku harus bisa jaga diri...harus...
Jangan macam-macam. Kemarahan yang mendalam, kekecewaan yang mata sangat dari dia yang menyayangiku dan selalu menjadikanku tempat untuknya meminta saran.. Tapi kini,bukankah diri ini sudah tak pantas lagi menjadi teladan??
Seharian yang membuatku canggung. Tak ada tegur sapa. hanya pesan2 singkat berisi nasehat yang lebih terdengar sebagai tanda kekecewaan..
Jaga diri. Masih ada sayang disana, di hatinya. Meminta untuk menjaga diri sendiri. Ya, karena jauh di sini, di tempat ini siapa lagi yang bisa menjaga diri ini kalai bukan diri sendiri. Selalu meminta kekuatan kepada Sang Khalik untuk bisa menjaga hati ini tetap terpaut pada-Nya...
Nak,..! Wajah lelah yang selalu dipaksa tersenyum di depan anaknya. Aku tahu telah banyak usahanya untuk membesarkanku.. Tak ada rasa bosan, walau jasanya belum terbalas bahkan mungkin tak akan pernah bisa di balas. Tak hendak mengecewakannya.. Tenggorokan selalu tercekat, tertahan menahan haru atas penderitaannya. Kapan dia bisa istirahat menikmati masa tuanya dan aku menggantikannya mencari uang???
Sore kelam di ruang tamu.. Udara sore yang sejuk.. Buku tebal bertuliskan Armageddon masih di tangan. Baru saja membuka beberapa lembarannya melanjutkan bacaan tiba2 ibu datang menghampiri.. Tersenyum lalu duduk di sebelahku. Tak ada tema. Cerita mengalir begitu saja. kadang diselingi tawa karena cerita yang lucu. Atau terdiam karena terharu... Tapi ibu, ibu yang polos. Kisah hidupnya menyimpan banyak rahasia dan kejutan. Aku belajar, tentang perjuangan hidupnya...
Motor itu melaju kencang, tapi tak lama berjalan pelan.. Hingga akhirnya berhenti. Mampir. Memasuki areal pekuburan massal. Tepat di bawah kamboja putih tubuhnya bersemayam. Peristirahatan terakhir sebelum perkumpulan di Padang Mahsyar.. rumput2 liar kembali menyelimuti kuburan itu. Satu persatu rumput kami cabuti. Sambil berbisik Kakak mengajak bicara jasad tak bernyawa di dalam tanah sana. aku hanya terdiam saja sambil terus mencabuti rumput yang tumbuh di atas kuburan itu..
Pegi pagi pulang sore bahkan malam.. Semua karena tugas yang menumpuk.. Aku mau membantunya.. Kuliahnya harus selesai...
Semua...aku menyayanginya.. Ya, aku tak mau macam2.. aku harus bisa jaga diri...harus...
Mencoba
Ada rasa yang mengganjal di hati.. Tapi ku mantapkan pilihanku. Mobil itu membawaku pergi jua, walau hati masih bimbang. Sengaja ku pilih warna merah gelap kali ini. Aku baru pertama kali memasuki daerah ini. Ku ikuti saja alur yang tertera di sms. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya. Memasuki tempat itu dengan canggung. Awalnya kaku amat kaku. Sendiri. Tapi beberapa menit kemudian ada seseorang yang menghampiri... Satu, dua tiga orang yang lainnya pun ikut menyapa.. Tapi kebanyakan hanya menatap saja..
Tujuanku satu, aku ingin mencobanya sendiri. Kesan pertama mungkin memang terasa kaku. Tapi lama2 jadi terbiasa. Biarlah orang mau bilang apa. Aku kan ke sini karena Allah... Semoga niat baikku dicatat oleh-Nya..
Tujuanku satu, aku ingin mencobanya sendiri. Kesan pertama mungkin memang terasa kaku. Tapi lama2 jadi terbiasa. Biarlah orang mau bilang apa. Aku kan ke sini karena Allah... Semoga niat baikku dicatat oleh-Nya..
Dua Hari
Sudah memasuki bulan ketiga mengotak atik sample di laboratirium Biota Sumatera dua lantai ini.. Berteman dengan berbagai macam pelarut.. Dan lebih sering tanpa pengaman yang cukup. Alhasil mencium aroma pelarut yang membahyakan tubuh itu, dan akhirnya dada sesak dan kepala pusing Selalu begitu tiap kali pulang dari labor..
Tapi bukannya jerah,malah tambah nyantai aja bermain dengan zat2 berbahaya itu.. Dan dua hari ini menjadi hari2 terlama selama "kerja" di labor. Pulang malam. Ya pulang malam, bahkan teman2 lain pulang lebih malam lagi, lewat maghrib.
Kemaren, Aku dan seorang temanku pulang lebih dulu. Berjalan melewati jalanan yang sepi,dan duduk menunggu di halte yang sepi pula. beberapa kendaraan pribadi melintas. Tak ada angkot apalagi bus. Lalu kami menunggu apa? Pasrah saja. Menunggu dan tetap menunggu. Hingga akhirnya sebuah mobil Jazz Hitam melintas dari arah seberang halte tempat kami menunggu..
"bareng yuk, ajak kakak itu dari kaca mobilnya yang terbuka.."
"Asyiik.."ujar temanku.. " Masih muat Kak???"
"Masih,aman tu" senyum kakak itu ramah..
Kami pun naik,aku duduk di dekat jendela.. Di perjaanan aku hanya memandang keluar diam, dan sesekali memandangi HaPe yang hening seharian.. Biasanya ramai sms yang masuk tapi kali ini tidak..
Di mobil itu aku memikirkan seseorang.. Dan tanpa ku duga, tepat di sebelahku sebuah motor melintas.. Dua orang yang bergoncngan. Aku kenal tas itu, aku kenal pakaian itu.. Yup, dia.. dia yang duduk di belakang itu. Aku mengenalnya.. Kenal baik malah.. Tapi dia jauh sekarang sangat jauh..
Dan dua hari..selama dua hari ini aku bermimpi tentangnya.. Tentang dirinya yang menjauh pergi... tentang dia yang dianiaya karena menyelamatkanku.. Selama dua hari ini pula aku merasakan dirinya menjauh.. mimpi pertama sudah menjadi kenyataan di sore itu. Saat motor itu menjauh menyelinap di antara kendaraan2 lain yang ngantri di jalanan sempit pasar baru.. Mobil yang ku tumpangi tertahan dalam kemacetan. Hingga akhirnya aku kehilangan sosoknya.. Sama seperti mimpi pertama, saat motornya menjauh meninggalkanku, bahkan dia tidak menoleh ke belakang. Dan tak menyadari keberadaanku...
Masih terukir jelas dalam ingatan, mimpi kedua.. Hari kedua, dia membawaku pergi.. Tapi dalam perjalanan itu terjadi kecelakaan.. Dia selamat, tapi aku.. Aku terkapar tak berdaya. Dalam suasana yang kabur itu aku melihat tubuhnya malah di aniaya oleh orang2 yang berada di situ.. Dia disalahkan karena menyebabkan diriku celaka.. Aku pun meronta..melarang mereka menyakiti dirinya.. Tapi percuma, suaraku parau.. Amat parau.. Di tengah hiruk pikuk itu suaraku benar2 tenggelam.. Aku hanya bisa menitikkan air mata tak tahan melihat penderitaannya...
Walau hanya mimpi...Tapi itu seperti nyata..
Di mimpi itu pula aku melihatnya berwudhu.. Wajahnya bercahaya,.. Tersenyum lembut ke arahku.. Air wudhu menetes dari rambut ikalnya...
Mimpi2 yang membuatku berpikir dan merenung...
Kini aku tidak mengenalinya lagi... Dia pergi tanpa kabar..
Tapi bukannya jerah,malah tambah nyantai aja bermain dengan zat2 berbahaya itu.. Dan dua hari ini menjadi hari2 terlama selama "kerja" di labor. Pulang malam. Ya pulang malam, bahkan teman2 lain pulang lebih malam lagi, lewat maghrib.
Kemaren, Aku dan seorang temanku pulang lebih dulu. Berjalan melewati jalanan yang sepi,dan duduk menunggu di halte yang sepi pula. beberapa kendaraan pribadi melintas. Tak ada angkot apalagi bus. Lalu kami menunggu apa? Pasrah saja. Menunggu dan tetap menunggu. Hingga akhirnya sebuah mobil Jazz Hitam melintas dari arah seberang halte tempat kami menunggu..
"bareng yuk, ajak kakak itu dari kaca mobilnya yang terbuka.."
"Asyiik.."ujar temanku.. " Masih muat Kak???"
"Masih,aman tu" senyum kakak itu ramah..
Kami pun naik,aku duduk di dekat jendela.. Di perjaanan aku hanya memandang keluar diam, dan sesekali memandangi HaPe yang hening seharian.. Biasanya ramai sms yang masuk tapi kali ini tidak..
Di mobil itu aku memikirkan seseorang.. Dan tanpa ku duga, tepat di sebelahku sebuah motor melintas.. Dua orang yang bergoncngan. Aku kenal tas itu, aku kenal pakaian itu.. Yup, dia.. dia yang duduk di belakang itu. Aku mengenalnya.. Kenal baik malah.. Tapi dia jauh sekarang sangat jauh..
Dan dua hari..selama dua hari ini aku bermimpi tentangnya.. Tentang dirinya yang menjauh pergi... tentang dia yang dianiaya karena menyelamatkanku.. Selama dua hari ini pula aku merasakan dirinya menjauh.. mimpi pertama sudah menjadi kenyataan di sore itu. Saat motor itu menjauh menyelinap di antara kendaraan2 lain yang ngantri di jalanan sempit pasar baru.. Mobil yang ku tumpangi tertahan dalam kemacetan. Hingga akhirnya aku kehilangan sosoknya.. Sama seperti mimpi pertama, saat motornya menjauh meninggalkanku, bahkan dia tidak menoleh ke belakang. Dan tak menyadari keberadaanku...
Masih terukir jelas dalam ingatan, mimpi kedua.. Hari kedua, dia membawaku pergi.. Tapi dalam perjalanan itu terjadi kecelakaan.. Dia selamat, tapi aku.. Aku terkapar tak berdaya. Dalam suasana yang kabur itu aku melihat tubuhnya malah di aniaya oleh orang2 yang berada di situ.. Dia disalahkan karena menyebabkan diriku celaka.. Aku pun meronta..melarang mereka menyakiti dirinya.. Tapi percuma, suaraku parau.. Amat parau.. Di tengah hiruk pikuk itu suaraku benar2 tenggelam.. Aku hanya bisa menitikkan air mata tak tahan melihat penderitaannya...
Walau hanya mimpi...Tapi itu seperti nyata..
Di mimpi itu pula aku melihatnya berwudhu.. Wajahnya bercahaya,.. Tersenyum lembut ke arahku.. Air wudhu menetes dari rambut ikalnya...
Mimpi2 yang membuatku berpikir dan merenung...
Kini aku tidak mengenalinya lagi... Dia pergi tanpa kabar..
