Pages

Pages

Pages - Menu

Jumat, 23 Januari 2015

Apoteker???

Kini lah jadi Apoteker, tapi..........

Rasanya percuma dapat nilai A waktu ujian Komprehensif, percuma. Rasanya semua ilmu sudah menguap sekarang. Hanya tersisa ilmu-ilmu dasar yang tidak seberapa.

Alhasil ketika saudara bertanya mengenai obat,aku hanya bisa bilang "Nggak usah lah minum obat,istirahat aja, atau minum air putih,minum madu,jahe hangat" de el el sejumlah terapi yang nggak berisiko atau istilah farmasinya "terapi non farmakologi".

Sebenarnya bukan aku nggak tahu penyakit ini terapinya obat ini, tapi aku berusaha semaksimal mungkin menghindarkan saudara2 ku dari ketergantungan dengan obat-obatan. Setahu aku obat itu "racun", apabila nggak digunakan dengan 7T dan 1 W ( Tepat Diagnosis, Tepat Pemilihan Obat, Tepat Indikasi, Tepat Pasien, Tepat Dosis, Tepat Cara dan Lama Pemberian,Tepat Informasi dan Waspada Efek Samping Obat).

Tapi,seorang ibu yang begitu "kasihan" pada anaknya yang batuk nggak hilang-hilang disertai flu dan kadang demam juga ikut-ikutan, akhirnya membawa anaknya ke rumah sakit karena obat apotek udah nggak mempan. Dan seperti biasa jika kita ke rumah sakit dan diperiksa Dokter, kita akan membawa pulang secarik kertas berisi resep obat-obatan untuk mengatasi sakit yang kita derita. Hal ini pun dialami ibu itu yang nggak lain adalah ayuk-ku.

Ku baca obat-obatan pada resep itu, dan wow ku temukan antibiotik generasi atas di dalamnya. Ponakanku yang masih bayi (dibawah dua tahun) itu harus minum obat sekeras ini? Separah itukah ponakanku? Namun apa daya, si Ibu tak tahu lagi bagaimana menyembuhkan penyakit yang menggerogoti saluran pernafasan anaknya. Agh, dimana ilmu Apotekerku. Benar2 aku tak bisa memberi pemahaman yang meyakinkan sang Ibu agar tidak membiarkan obat itu melewati kerongkongan mungil ponakanku.

Sebenarnya pha-pha kecil sudah meminum obat dengan kandungan yang sama dan tujuan terapi yang sama pula, tapi kali itu dia dapat merk yang lebih branded. Dan ajaibnya dia menyukai rasa obat-obatan itu, alhasil dia minta dan minta lagi. Sementara sakitnya lumayan berkurang. Aku yang apoteker benar2 acung jempol sama Apoteker yang membuat formulasi obat yang pahit menjadi enak di lidah anak-anak. Tapi, kasihan ponakanku ini, berapa banyak obat yang sudah tertimbun didalam tubuh dan aliran darahnya, yang belum sempat dikeluarkan karena waktu eliminasi obat yang panjang. belum lagi kalau beberapa hari kemudian dia minum obat itu lagi dengan keluhan yang sama. Aduuh,nggak kebayang, berapa banyak efek samping obat yang akan dialami tubuh mungilnya.

Itulah sebenarnya alasan kenapa aku hanya menganjurkan terapi non farmakologi pada keluargaku atau teman2ku yang bertanya tentang terapi penyakit. ESO yang tak terhindarkan. Mudharat yang lebih besar dari manfaat.

"Hindari penyebabnya", ya edukasi lah yang akhirnya kuberikan. Ku jelaskan penyebab penyakitnya dan penyebab itulah yang harus dihindari bila tak ingin merasakan sakit yang sama. Sementara mereka tetap ke Dokter untuk mendapatkan obat yang bisa mengurangi rasa sakit.

Sering manusia lupa, siapa yang memberi rasa sakit? Ya, Dia-lah Allaah yang Maha berkehendak. Banyak bukti yang menunjukkan bagiamana akhirnya orang-orang mendekat kepada-Nya, meminta kesembuhan atas sakit yang mereka derita. Dan Allah pun mengabulkan do'a mereka.

Ingat, obat itu hanya cara atau fasilitas untuk kesembuhan. Tetapi yang berkehendak untuk kesembuhan itu tak lain adalah Allaah. Jadi ingatlah Allaah ketika kita sakit. dan berobatlah dengan cara yang benar dan tidak menyimpang dari syari'at-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar