Celoteh Septri: Sepotong Kisah Sedih Ba'da Dzuhur

Sepotong Kisah Sedih Ba'da Dzuhur


Otaknya pecah, keluar berhamburan bersama darah segar.
Tubuh itu lemah tergeletak tak berdaya di atas aspal berdebu.
Tak ada yang peduli, tergerak untuk memindahkannya dari tengah jalan.

Jarak itu semakin dekat, beberapa pelajar laki-laki yang baru saja pulang dari sekolah menatap iba ke arahnya.
Salah seorang dari mereka melepaskan tasnya dan menyerahkannya ke temannya lalu menyingsingkan lengan bajunya.
Mengangkat tubuh penuh darah itu dari jalanan ke pinggir.

Jarak sudah semakin dekat, hingga terlihat kepalanya yang hancur.
Allah!
Sementara nafasnya tersengal-sengal.
Tak ada lagi suara, hanya tatapan kosong mata yang masih utuh.
Sungguh malang.
Siapa pelakunya? Tak bertanggung jawab.

Kambing kecil merah....

***
Itulah sepotong kisah sedih hari ini. Betapa sabar si kambing kecil menghadapi kematian. Tanpa teriakan. Ya Rabb, bagaimana sakitnya sakaratul maut itu? Padahal sebagian rasa sakitnya sudah ditanggung oleh Insan yang mulia, Rasulullah.. Ya Rabb, hati ini masih sering lalai mengingatmu.

Malaikat maut mengintai kita 70 kali selama sehari, lalu patutkah kita tertawa terbahak-bahak?

Ya Allah, jaga aku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Celoteh Septri Urang-kurai