Pages

Pages

Pages - Menu

Senin, 10 September 2012

Tiga Minggu di Perkebunan Kopi bagian Satu


Setelah berhasil “memaksa” anaknya yang baru lulus SMP dan SMA ini seorang ibu tertawa sumringah. Menyiapkan berbagai keperluan dapur untuk bekal di kebun nanti. Dua orang anaknya cowok dan cewek itu terdiam saja, pasrah.

Hujan rintik-rintik menyambut mereka bertiga, di talang gunung agung itu. Udara dingin, sungguh kontras dengan udara kota yang baru sekitar tiga-empat jam yang lalu mereka tinggalkan.

Pukul dua belas siang. Mereka istirahat sebentar di rumah kenalan ibunya. Anak cewek memaksa agar mereka melanjutkan perjalanan. Si ibu manut aja. Tapi baru beberapa rumah melangkah dan hampir memasuki areal perkebunan langkah mereka terhenti. Hujan lebat. Si ibu memutuskan berteduh dibawah rumah kayu dua tingkat yang dekat dengan mereka. Bagian bawah rumah itu hanya disanggah beberapa tiang dan dipenuhi kayu bakar. Disanalah mereka duduk.

Jam di HP yang hampir kehabisan baterai itu sudah menunjukkan pukul satu siang. Berarti sudah masuk waktu Dzuhur. Si anak cewek memaksa ibunya untuk melanjutkan perjalanan karena dia mau sholat. Tapi hujan benar-benar deras. Ibunya menyarankan anaknya untuk sholat di rumah tempat mereka istirahat tadi. Tapi si anak menolak, karena tadi dia lihat di rumah itu ada anjingnya. Dia ragu takut tempatnya kena najis.

Si anak terus memaksa. Hujan sedikit reda tapi masih cukup deras. Karena si anak terus memaksa akhirnya si Ibu mengambil semua perelngkapannya, menjunjungnya dan berdiri. Ayo! Ujarnya.

Sesekali si anak melihat ibunya yang kesusahan berjalan di belakangnya membawa beban yang berat. Ibu, biar aku bantu. Katanya menawarkan pertolongan tapi si ibu menggeleng. Terus saja jalan hujan makin lebat!

Jarak yang cukup jauh harus mereka tempuh. Mendaki bukit yang terjal, menuruni jalanan yang licin, melewati sungai deras yang meninggi karena hujan, dan masih banyak lagi rintangan. Hujan juga masih deras. Mereka baru sampai ke Talang yang mereka tuju sekitar satu setengah jam lagi itupun kalau jalannya cepat. Tapi hujan begini dengan beban yang berat tentu perjalanan mereka akan lebih lama. Perkebunan kopi itu sepi, para pemiliknya pastilah berteduh di rumah masing-masing.

Beberapa kali si anak cewek tergelincir. Si adik cowok berinisiatif mencari kayu sebagai tongkat untuk kakaknya itu. Baiknya.

Sampai di Talang (tapi bukan talang yang mereka tuju) si ibu berkata, coba ibu pinjam mukena orang sini, mungkin kamu bisa numpang sholat. Si anak senang. Tapi rasa senang itu nggak bertahan lama karena ternyata orang yang ditanya nggak punya mukena. Ya, Allah beliau islam nggak sih??? Masa nggak punya mukena. Terus sholatnya gimana???

Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang amat payah dan menguras tenaga,mereka sampai juga di rumah yang dituju. Sholat. Itulah yang pertama kali dilakukan si anak ketika sampai.

Hujan sudah reda, tinggal sisa-sisa embun dan udara sejuk yang dingin yang menandakan kalau tadi baru saja hujan deras mengguyur tempat itu. Indahnya. Talang ditutupi kabut. Sungguh Indah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar