Setelah berhasil “memaksa” anaknya yang
baru lulus SMP dan SMA ini seorang ibu tertawa sumringah. Menyiapkan berbagai
keperluan dapur untuk bekal di kebun nanti. Dua orang anaknya cowok dan cewek
itu terdiam saja, pasrah.
Hujan rintik-rintik menyambut mereka
bertiga, di talang gunung agung itu. Udara dingin, sungguh kontras dengan udara
kota yang baru sekitar tiga-empat jam yang lalu mereka tinggalkan.
Pukul dua belas siang. Mereka istirahat
sebentar di rumah kenalan ibunya. Anak cewek memaksa agar mereka melanjutkan
perjalanan. Si ibu manut aja. Tapi baru beberapa rumah melangkah dan hampir memasuki
areal perkebunan langkah mereka terhenti. Hujan lebat. Si ibu memutuskan berteduh
dibawah rumah kayu dua tingkat yang dekat dengan mereka. Bagian bawah rumah itu
hanya disanggah beberapa tiang dan dipenuhi kayu bakar. Disanalah mereka duduk.
Jam di HP yang hampir kehabisan baterai
itu sudah menunjukkan pukul satu siang. Berarti sudah masuk waktu Dzuhur. Si
anak cewek memaksa ibunya untuk melanjutkan perjalanan karena dia mau sholat.
Tapi hujan benar-benar deras. Ibunya menyarankan anaknya untuk sholat di rumah
tempat mereka istirahat tadi. Tapi si anak menolak, karena tadi dia lihat di
rumah itu ada anjingnya. Dia ragu takut tempatnya kena najis.
Si anak terus memaksa. Hujan sedikit
reda tapi masih cukup deras. Karena si anak terus memaksa akhirnya si Ibu
mengambil semua perelngkapannya, menjunjungnya dan berdiri. Ayo! Ujarnya.
Sesekali si anak melihat ibunya yang
kesusahan berjalan di belakangnya membawa beban yang berat. Ibu, biar aku
bantu. Katanya menawarkan pertolongan tapi si ibu menggeleng. Terus saja jalan
hujan makin lebat!
Jarak yang cukup jauh harus mereka tempuh.
Mendaki bukit yang terjal, menuruni jalanan yang licin, melewati sungai deras
yang meninggi karena hujan, dan masih banyak lagi rintangan. Hujan juga masih
deras. Mereka baru sampai ke Talang yang mereka tuju sekitar satu setengah jam
lagi itupun kalau jalannya cepat. Tapi hujan begini dengan beban yang berat
tentu perjalanan mereka akan lebih lama. Perkebunan kopi itu sepi, para pemiliknya pastilah berteduh di rumah masing-masing.
Beberapa kali si anak cewek
tergelincir. Si adik cowok berinisiatif mencari kayu sebagai tongkat untuk
kakaknya itu. Baiknya.
Sampai di Talang (tapi bukan talang
yang mereka tuju) si ibu berkata, coba ibu pinjam mukena orang sini, mungkin
kamu bisa numpang sholat. Si anak senang. Tapi rasa senang itu nggak bertahan
lama karena ternyata orang yang ditanya nggak punya mukena. Ya, Allah beliau
islam nggak sih??? Masa nggak punya mukena. Terus sholatnya gimana???
Akhirnya setelah melakukan perjalanan
yang amat payah dan menguras tenaga,mereka sampai juga di rumah yang dituju.
Sholat. Itulah yang pertama kali dilakukan si anak ketika sampai.
Hujan sudah reda, tinggal sisa-sisa
embun dan udara sejuk yang dingin yang menandakan kalau tadi baru saja hujan
deras mengguyur tempat itu. Indahnya. Talang ditutupi kabut. Sungguh Indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar