Pages

Pages

Pages - Menu

Jumat, 26 Oktober 2012

Antara Aku dan Dia

Keluargaku memutuskan untuk berlibur ke tempat Uwak. Desa kecil itu memberi kenangan sendiri bagi ibu. Ya, dari tiga anak nenek cuma Uwak yang tetap tinggal di desa itu bersama istri dan ketujuh anaknya. Seperti biasa kalau udah di kampung ibu hobinya keluyuran,mengunjungi sanak keluarga. Kakak-kakak dan adikku lebih suka di rumah daripada ikut ibu jalan-jalan. Aku bosan di rumah, pergi jalan-jalan sama ibu kayaknya asyik tuh.

Kami menyusuri jalan aspal yang sepi, di kiri dan kanan jalan hanya ada kebun-kebun coklat yang agak serut tak terurus. Belok ke jalan yang lebih kecil,kali ini jalan tanah yang becek karena hujan semalam. Udara pagi ini juga agak lebih dingin dari biasanya. Hemm, bagiku yang orang kota udara desa benar2 sejuk. Aku suka. Di ujung jalan ada sungai kecil, tak ada jembatan jadi kalau mau menyeberang ya harus masuk ke sungai. Airnya agak keruh, batu2an di dasar sungai pun jadi tidak kelihatan. Lama ku menatap tumbuhan air berbunga ungu yang ada di tepian sungai itu, cantik..entah apa namanya. Seekor capung berwarna merah hinggap sebentar lalu pergi.

"Hei, cepatlah!" kata ibu yang sudah menyeberang sungai memanggilku. Aku terkesiap, cepatnya..

"Ehm tunggu Bu.." perlahan ku lepas kaos kaki dan sendal jepitku, memegangi mereka dengan tangan kanan sementara tangan kiriku mengangkat rok sampai setengah betis. hati-hati aku menyeberangi sungai yang lebarnya tidak sampai dua meter itu.

Tapi tepat di tengah-tengah sungai seorang laki-laki berjalan mendekat dan menyapa ibuku. Aku pun terlonjak kaget,menurunkan rokku. Tapi sayang tangan kananku tak sempat menjangkau sendal jepit yang terjatuh (beruntung kaos kakinya nggak ikut jatuh). Sendal itu terbawa arus sungai yang agak deras.

Ya, sendal yang tak terselamatkan.

"Maaf membuat kaget." ujar laki-laki yang berdiri di sebelah ibu, merasa bersalah.

"Hemm,.." jawabku datar. Menyembunyikan kakiku di balik rok yang menjuntai basah.

"Hanif, apa kabarmu?" tanya Ibu seraya menatap takjub ke laki-laki tinggi di sebelahnya itu. Hmm, ibu bukannya iba melihat anaknya tak punya alas kaki.

" Baik tante.." senyum cowok tegap itu. Aahh lagaknya kayak seorang tentara saja. Aku mengalihkan pandangan ke sungai yang telah menghanyutkan sendalku.

"Sudah selesai kuliahmu ya. Tante dengar kamu sudah dapat kerja di Jakarta. Wah, hebat kamu Nif. Langsung dapat kerja..." tutur ibu bangga.

"hmm, iya Tante. Alhamdulillah." jawabnya sopan.

Hanif siapa dia? Aku baru sekali ini melihatnya. Tapi sudahlah nggak peduli. Gara-gara dia sendalku hilang. Aahh. gimana ni. Rupanya cowok itu memperhatikanku juga. Karena tiba-tiba dia bertanya.

"Anak tante??"
"Iya, kenalin dia Mira.. Baru aja tamat SMA." kedua orang itu memandangku. "Mira, sini!" panggil ibu.

Aku menatap ujung rokku. Tidak mungkin. Kalau aku berjalan otomatis kakiku akan terlihat.

Seperti memahami suasana laki-laki itu melepas sendal jepitnya lalu berjalan mendekatiku. Dan menotodorkan sendal jepitnya.

"Ah, Hanif tidak perlu.."kata ibu melarang. Aku pun heran.

"Maaf ya. Saya salah tadi mengangetkan. Pakai saja. Rumah saya dekat kok dari sini." senyumnya ramah. Aku tertunduk.

"Makasih.." Sendal itu tak langsung ku pakai.

Setelah laki-laki bernama Hanif itu pergi barulah aku buru2 memasang kauskaki dan sendal jepit itu lalu mengikuti ibu yang sudah berjalan jauh meninggalkanku karena terlalu lama.

Ya, pagi itu adalah perjumpaanku dengannya, Hanif....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar