Seingatku waktu itu liburan puasa Ramadahn. kalau dulu Ramadhan satu bulan full libur. Nggak masuk sekolah. jadi dulu waktu masih SD aku sering pulang ke kampung Orangtuaku. Saking pengennya pulang, tak jarang aku pulang sendiri sementara keluargaku masih di Kota.
Kali itu aku dan kakak pertamaku saja yang pulang ke kampung. Yang lain nggak jadi pulang karena ada suatu kendala. tentu aku kecewa karena janjinya mereka akan menyusul. Tapi satu karung mangga hasil panen pohon mangga di belakang rumah berhasil membujukku. Walaupun saat itu aku cuma makan kurang dari 10 biji saja. Sisanya diserobot oleh tujuh sepupuku.
Tak habis akal, sepupuku mencoba menghiburku dengan mengajakku main ke kebun di belakang rumahnya. Taoi kurasa kebun itu lebih mirip hutan. Ada dua kuburan disana. Didekat kuburan itu ada pohon yang daunnya sering dibuat permaianan bola api sama anak-anak desa, termasuk sepupuku. Jadi di belakang daun itu ada lapisan berwarna putih tebal. lapisan itulah yang dikuliti perlahan membentuk bola sebesar kelereng lah. Terus di bakar deh, tanpa minyak. Mungkin sudah ada kandungan minyaknya dilapisan putih itu. Seru juga. Tapi yang bikin merinding sepupu-sepupuku ini mainnya di kuburan. Tidaaaakkkk.. berapa kali pun aku ajak pulang mereka tetap betah. Katanya kalau daunnya di bawa kerumah terus buat bola apinya di rumah nggak bakalan bisa karena daun layu nggak menghasilkan bola api yang bagus. Yeahh.. tau ah.
Bosan main bola api, sepupuku mengajakku main balon-balonan dari getah jarak. seru juga. tapi pahiiit... Nggak tahan..
Seingatku juga di rumah Uwak ini aku belajar masak pertama kali. Kakak sepupuku yang lebih tua 7 tahun dariku itu yang mengajariku masak. Masak gulai telur campur tebu telur campu terung masak...ehmm campur2 deh pokoknya. Masakan khas kampung yang aku suka.. sampai nambah makannya, kan aku yang masak,heheheee... Di sana juga akhirnya aku menyukai makanan super pahit yang bernama pare.. Bilangnya sih nggak sudi makan gulai pare, tapi ketika sepupu2ku pada pergi ke depan, aku kembali ke dapur dan menikmati gulai pare tanpa nasi..hehehee.. nakal.
Aah masa kecilku. Indah untuk di kenang.
Waktu itu aku dan kakak serta sepupuku di ajak nginap kerumah pengasuh adek. Kampungnya agak jauh dari tempat Uwak. Jadi kesana mesti naik mobil. Sampai di rumahnya aku terkesiap, Ternyata kakak pengasuh punya 12 saudara. dan bayangin aja saudara terkecilnya baru berumur satu tahun sementara anak pertama berumur 30 tahunan. Ehmm,,
Besoknya kami di ajak main kesawahnya, katanya baru mau bertanam,. Jalan kaki loh, ada hampir 14 kiloan lah. Cuapeekk buangeet.. Awalnya kami lewat jalan tanah yang super duper becek. Mesti hati2 melangkah tapi setelahnya kami lewat jalan aspal yang bagus banget,kiri kanan ada pohon2 kelapa sawit yang tertata rapi. Terus agak lima kiloan lah kami belok ke jalan tanah berumput.. kiri kanan ada semak belukar, ada pohon kelapa juga. indah lah. Tak lama jalanan mulai nggak bersahabat lagi, becek. Mesti hati2 karena ada kotoran sapinya juga..iiwwww... Akhirnya kami tibalah di arela persawahan setelah melewati sungai kecil berbatu yang jernih... Masuk ke semak-semak lagi, terus sungai dalam jernih tak berbatu. Waktu itu rasanya aku yang paling pendek.Orang-orang tinggi itu termasuk kakak dan sepupuku bisa melewati sungai dengan baik. Sungai itu kiri kanannya penuh semak belukar, ada ikan-ikan kecilnya yang menyingkir ke balik akar2 semak jika ada yang lewat. aku cuma terdiam di pinggir sungai. Mikir, gimana lewatnya ya. Kalau aku masuk airnya sampai ke pinggang. Kalau jinjit bisa sih nggak sampai pinggang. Tapi otomatis pakaianku basah. Oalah si orang2 dewasa bukannya bantuin mikir malah ngomel2 di seberang suruh cepetan. Alhasil basah dah bajuku.
Sampai disawah, langsung naik ke pondok. ngadem di jendela pondok yang menghadap ke hamparan sawah yang belum ditanam. Turun ke sawah mencari liling, tau liling nggak?? Sejenis keong gitu tapi hitam bentuknya lebih kecil dikit, enak di gulai campur rebung. Tapi lagi asyik2nya nyari liling di sawah yang belum ditanami itu, saudara2 kakak pengasuh yang ada di pondok berteriak mengingatkan.. Woi,hati2 di sana banyak lintahnya...""HHaaaaaaaaaaaahhhhhhh..." aku dan sepupuku langsung loncat-loncat ke pematang sawah lari ke pondok. tapi byuuurrr... aku dan sepupuku nyebur kesawah. basah. Secepat kilat aku naik ke pematang terus lari ke pondok. Dan mencak-mencak memeriksa kaki dan pakaianku kalau2 ada lintah atau pacat. Yup. beres. Aman.. Tapi sepupuku kasihan, dihinggapi 2 atau tiga lintah. Hiks. Ya itulah pengalaman masa kecil.
Bagaimana pengalamanmu sobat????? ^^

sangat indah
BalasHapus:)