Jangan macam-macam! Jaga diri!
Pesan singkat, yang hanya bisa di sampaikan lewat kata2.. Kenapa, apakah diri ini terlalu keras jika di nasehati langsung? Mungkin iya...
Jangan macam-macam. Kemarahan yang mendalam, kekecewaan yang mata sangat dari dia yang menyayangiku dan selalu menjadikanku tempat untuknya meminta saran.. Tapi kini,bukankah diri ini sudah tak pantas lagi menjadi teladan??
Seharian yang membuatku canggung. Tak ada tegur sapa. hanya pesan2 singkat berisi nasehat yang lebih terdengar sebagai tanda kekecewaan..
Jaga diri. Masih ada sayang disana, di hatinya. Meminta untuk menjaga diri sendiri. Ya, karena jauh di sini, di tempat ini siapa lagi yang bisa menjaga diri ini kalai bukan diri sendiri. Selalu meminta kekuatan kepada Sang Khalik untuk bisa menjaga hati ini tetap terpaut pada-Nya...
Nak,..! Wajah lelah yang selalu dipaksa tersenyum di depan anaknya. Aku tahu telah banyak usahanya untuk membesarkanku.. Tak ada rasa bosan, walau jasanya belum terbalas bahkan mungkin tak akan pernah bisa di balas. Tak hendak mengecewakannya.. Tenggorokan selalu tercekat, tertahan menahan haru atas penderitaannya. Kapan dia bisa istirahat menikmati masa tuanya dan aku menggantikannya mencari uang???
Sore kelam di ruang tamu.. Udara sore yang sejuk.. Buku tebal bertuliskan Armageddon masih di tangan. Baru saja membuka beberapa lembarannya melanjutkan bacaan tiba2 ibu datang menghampiri.. Tersenyum lalu duduk di sebelahku. Tak ada tema. Cerita mengalir begitu saja. kadang diselingi tawa karena cerita yang lucu. Atau terdiam karena terharu... Tapi ibu, ibu yang polos. Kisah hidupnya menyimpan banyak rahasia dan kejutan. Aku belajar, tentang perjuangan hidupnya...
Motor itu melaju kencang, tapi tak lama berjalan pelan.. Hingga akhirnya berhenti. Mampir. Memasuki areal pekuburan massal. Tepat di bawah kamboja putih tubuhnya bersemayam. Peristirahatan terakhir sebelum perkumpulan di Padang Mahsyar.. rumput2 liar kembali menyelimuti kuburan itu. Satu persatu rumput kami cabuti. Sambil berbisik Kakak mengajak bicara jasad tak bernyawa di dalam tanah sana. aku hanya terdiam saja sambil terus mencabuti rumput yang tumbuh di atas kuburan itu..
Pegi pagi pulang sore bahkan malam.. Semua karena tugas yang menumpuk.. Aku mau membantunya.. Kuliahnya harus selesai...
Semua...aku menyayanginya.. Ya, aku tak mau macam2.. aku harus bisa jaga diri...harus...
Jangan macam-macam. Kemarahan yang mendalam, kekecewaan yang mata sangat dari dia yang menyayangiku dan selalu menjadikanku tempat untuknya meminta saran.. Tapi kini,bukankah diri ini sudah tak pantas lagi menjadi teladan??
Seharian yang membuatku canggung. Tak ada tegur sapa. hanya pesan2 singkat berisi nasehat yang lebih terdengar sebagai tanda kekecewaan..
Jaga diri. Masih ada sayang disana, di hatinya. Meminta untuk menjaga diri sendiri. Ya, karena jauh di sini, di tempat ini siapa lagi yang bisa menjaga diri ini kalai bukan diri sendiri. Selalu meminta kekuatan kepada Sang Khalik untuk bisa menjaga hati ini tetap terpaut pada-Nya...
Nak,..! Wajah lelah yang selalu dipaksa tersenyum di depan anaknya. Aku tahu telah banyak usahanya untuk membesarkanku.. Tak ada rasa bosan, walau jasanya belum terbalas bahkan mungkin tak akan pernah bisa di balas. Tak hendak mengecewakannya.. Tenggorokan selalu tercekat, tertahan menahan haru atas penderitaannya. Kapan dia bisa istirahat menikmati masa tuanya dan aku menggantikannya mencari uang???
Sore kelam di ruang tamu.. Udara sore yang sejuk.. Buku tebal bertuliskan Armageddon masih di tangan. Baru saja membuka beberapa lembarannya melanjutkan bacaan tiba2 ibu datang menghampiri.. Tersenyum lalu duduk di sebelahku. Tak ada tema. Cerita mengalir begitu saja. kadang diselingi tawa karena cerita yang lucu. Atau terdiam karena terharu... Tapi ibu, ibu yang polos. Kisah hidupnya menyimpan banyak rahasia dan kejutan. Aku belajar, tentang perjuangan hidupnya...
Motor itu melaju kencang, tapi tak lama berjalan pelan.. Hingga akhirnya berhenti. Mampir. Memasuki areal pekuburan massal. Tepat di bawah kamboja putih tubuhnya bersemayam. Peristirahatan terakhir sebelum perkumpulan di Padang Mahsyar.. rumput2 liar kembali menyelimuti kuburan itu. Satu persatu rumput kami cabuti. Sambil berbisik Kakak mengajak bicara jasad tak bernyawa di dalam tanah sana. aku hanya terdiam saja sambil terus mencabuti rumput yang tumbuh di atas kuburan itu..
Pegi pagi pulang sore bahkan malam.. Semua karena tugas yang menumpuk.. Aku mau membantunya.. Kuliahnya harus selesai...
Semua...aku menyayanginya.. Ya, aku tak mau macam2.. aku harus bisa jaga diri...harus...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar