Otaknya pecah, keluar berhamburan bersama darah segar.
Tubuh
itu lemah tergeletak tak berdaya di atas aspal berdebu.
Tak ada
yang peduli, tergerak untuk memindahkannya dari tengah jalan.
Jarak
itu semakin dekat, beberapa pelajar laki-laki yang baru saja pulang dari
sekolah menatap iba ke arahnya.
Salah
seorang dari mereka melepaskan tasnya dan menyerahkannya ke temannya lalu
menyingsingkan lengan bajunya.
Mengangkat
tubuh penuh darah itu dari jalanan ke pinggir.
Jarak
sudah semakin dekat, hingga terlihat kepalanya yang hancur.
Allah!
Sementara
nafasnya tersengal-sengal.
Tak ada
lagi suara, hanya tatapan kosong mata yang masih utuh.
Sungguh
malang.
Siapa
pelakunya? Tak bertanggung jawab.
Kambing
kecil merah....
***
Itulah
sepotong kisah sedih hari ini. Betapa sabar si kambing kecil menghadapi
kematian. Tanpa teriakan. Ya Rabb, bagaimana sakitnya sakaratul maut itu?
Padahal sebagian rasa sakitnya sudah ditanggung oleh Insan yang mulia, Rasulullah..
Ya Rabb, hati ini masih sering lalai mengingatmu.
Malaikat
maut mengintai kita 70 kali selama sehari, lalu patutkah kita tertawa
terbahak-bahak?
Ya
Allah, jaga aku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar