Celoteh Septri: Pernikahan Berbalut Kesederhanaan

Pernikahan Berbalut Kesederhanaan


Benar-benar sederhana, rasanya inilah pernikahan sederhana yang pernah aku datangi. Amat sangat sederhana sampai-sampai aku menitikkan air mata haru.. Tapi kedua mempelai terlihat bahagia, walau aku tak tahu apa yang terjadi di belakang mereka. Mungikin mereka menitikkan air mata lebih dariku, entah air mata duka ataukah air mata bahagia.
“saya terima nikahnya…….binti….dengan mas kawin lima puluh ribu rupiah di bayar tunai…”
“hah, lima puluh ribu rupiah???” bisikku kala itu. Hati ku terkesiap tak percaya, uang yang besarnya sama dengan gajiku mengajar privat 90 menit itu menjadi mas kawinnya. Bagiku itu mas kawin termurah yang pernah ku dengar selama aku menghadiri akad nikah orang-orang sebelumnya.
Tapi, kedua mempelai tidak malu. Bahkan mempelai wanita tersenyum senang. Bahagia menatap laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu.
Aku, benar-benar tak percaya ini nyata. Simpel. Tak ada campur baur wanita dalam pesta walimah mereka. Laki-laki di ruang depan, wanita di ruang belakang. Hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga di sekitar rumah. Tak ada tenda terpasang di halaman rumah apalagi panggung pengantin dan organ. Tak ada hiburan, yang ada hanyalah do’a tulus para tamu undangan. Makanannya pun sangat biasa, cukup untuk tamu dan sedikit berlebih untuk dibagikan ke sanak keluarga. Ya inilah pernikahan sederhana yang sangaat sederhana.
Mempelai wanita berias ala kadarnya. Mempelai wanita duduk bersama para tamu wanita.
Ya,, begitulah pengalamanku dalam menghadiri pesta sederhana seseorang yang ku sayangi… Sengaja menungguku pulang untuk menghadiri akad nikahnya. Memelukku erat sambil menitikkan air mata ketika menyambutku di depan pintu rumahnya. Menghapus kembali make-up nya untuk bermunajat kepada Sang Pencipta di waktu Dhuha..
Ketika sampai di KUA, kedua mempelai sudah ada, sanak keluarga terdekat kedua mempelai sudah ada. Tapi aku langsung terkesiap karena acara belum dimulai hanya gara-gara menungguku saja.. Sebegitu spesialnyakah diriku. Mungkin, iya.
Semoga ada hikmahnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Celoteh Septri Urang-kurai