Celoteh Septri: Dua Hari

Dua Hari

Sudah memasuki  bulan ketiga mengotak atik sample di laboratirium Biota Sumatera dua lantai ini.. Berteman dengan berbagai macam pelarut.. Dan lebih sering tanpa pengaman yang cukup. Alhasil mencium aroma pelarut yang membahyakan tubuh itu, dan akhirnya dada sesak dan kepala pusing Selalu begitu tiap kali pulang dari labor..

Tapi bukannya jerah,malah tambah nyantai aja bermain dengan zat2 berbahaya itu.. Dan dua hari ini menjadi hari2 terlama selama "kerja" di labor. Pulang malam. Ya pulang malam, bahkan teman2 lain pulang lebih malam lagi, lewat maghrib.

Kemaren, Aku dan seorang temanku pulang lebih dulu. Berjalan melewati jalanan yang sepi,dan duduk menunggu di halte yang sepi pula. beberapa kendaraan pribadi melintas. Tak ada angkot apalagi bus. Lalu kami menunggu apa? Pasrah saja. Menunggu dan tetap menunggu. Hingga akhirnya sebuah mobil Jazz Hitam melintas dari arah seberang halte tempat kami menunggu..

"bareng yuk, ajak kakak itu dari kaca mobilnya yang terbuka.."

"Asyiik.."ujar temanku.. " Masih muat Kak???"
"Masih,aman tu" senyum kakak itu ramah..
 Kami pun naik,aku duduk di dekat jendela.. Di perjaanan aku hanya memandang keluar diam, dan sesekali memandangi HaPe yang hening seharian.. Biasanya ramai sms yang masuk tapi kali ini tidak..

Di mobil itu aku memikirkan seseorang.. Dan tanpa ku duga, tepat di sebelahku sebuah motor melintas.. Dua orang yang bergoncngan. Aku kenal tas itu, aku kenal pakaian itu.. Yup, dia.. dia yang duduk di belakang itu. Aku mengenalnya.. Kenal baik malah.. Tapi dia jauh sekarang sangat jauh..

Dan dua hari..selama dua hari ini aku bermimpi tentangnya.. Tentang dirinya yang menjauh pergi... tentang dia yang dianiaya karena menyelamatkanku.. Selama dua hari ini pula aku merasakan dirinya menjauh.. mimpi pertama sudah menjadi kenyataan di sore itu. Saat motor itu menjauh menyelinap di antara kendaraan2 lain yang ngantri di jalanan sempit pasar baru.. Mobil yang ku tumpangi tertahan dalam kemacetan. Hingga akhirnya aku kehilangan sosoknya.. Sama seperti mimpi pertama, saat motornya menjauh meninggalkanku, bahkan dia tidak menoleh ke belakang. Dan tak menyadari keberadaanku...

Masih terukir jelas dalam ingatan, mimpi kedua.. Hari kedua, dia membawaku pergi.. Tapi dalam perjalanan itu terjadi kecelakaan.. Dia selamat, tapi aku.. Aku terkapar tak berdaya. Dalam suasana yang kabur itu aku melihat tubuhnya malah di aniaya oleh orang2 yang berada di situ.. Dia disalahkan karena menyebabkan diriku celaka.. Aku pun meronta..melarang mereka menyakiti dirinya.. Tapi percuma, suaraku parau.. Amat parau.. Di tengah hiruk pikuk itu suaraku benar2 tenggelam.. Aku hanya bisa menitikkan air mata tak tahan melihat penderitaannya...

Walau hanya mimpi...Tapi itu seperti nyata..

Di mimpi itu pula aku melihatnya berwudhu.. Wajahnya bercahaya,.. Tersenyum lembut ke arahku.. Air wudhu menetes dari rambut ikalnya...

Mimpi2 yang membuatku berpikir dan merenung...

Kini aku tidak mengenalinya lagi... Dia pergi tanpa kabar..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © Celoteh Septri Urang-kurai