Seingatku waktu itu liburan puasa Ramadahn. kalau dulu Ramadhan satu bulan full libur. Nggak masuk sekolah. jadi dulu waktu masih SD aku sering pulang ke kampung Orangtuaku. Saking pengennya pulang, tak jarang aku pulang sendiri sementara keluargaku masih di Kota.
Kali itu aku dan kakak pertamaku saja yang pulang ke kampung. Yang lain nggak jadi pulang karena ada suatu kendala. tentu aku kecewa karena janjinya mereka akan menyusul. Tapi satu karung mangga hasil panen pohon mangga di belakang rumah berhasil membujukku. Walaupun saat itu aku cuma makan kurang dari 10 biji saja. Sisanya diserobot oleh tujuh sepupuku.
Tak habis akal, sepupuku mencoba menghiburku dengan mengajakku main ke kebun di belakang rumahnya. Taoi kurasa kebun itu lebih mirip hutan. Ada dua kuburan disana. Didekat kuburan itu ada pohon yang daunnya sering dibuat permaianan bola api sama anak-anak desa, termasuk sepupuku. Jadi di belakang daun itu ada lapisan berwarna putih tebal. lapisan itulah yang dikuliti perlahan membentuk bola sebesar kelereng lah. Terus di bakar deh, tanpa minyak. Mungkin sudah ada kandungan minyaknya dilapisan putih itu. Seru juga. Tapi yang bikin merinding sepupu-sepupuku ini mainnya di kuburan. Tidaaaakkkk.. berapa kali pun aku ajak pulang mereka tetap betah. Katanya kalau daunnya di bawa kerumah terus buat bola apinya di rumah nggak bakalan bisa karena daun layu nggak menghasilkan bola api yang bagus. Yeahh.. tau ah.
Bosan main bola api, sepupuku mengajakku main balon-balonan dari getah jarak. seru juga. tapi pahiiit... Nggak tahan..
Seingatku juga di rumah Uwak ini aku belajar masak pertama kali. Kakak sepupuku yang lebih tua 7 tahun dariku itu yang mengajariku masak. Masak gulai telur campur tebu telur campu terung masak...ehmm campur2 deh pokoknya. Masakan khas kampung yang aku suka.. sampai nambah makannya, kan aku yang masak,heheheee... Di sana juga akhirnya aku menyukai makanan super pahit yang bernama pare.. Bilangnya sih nggak sudi makan gulai pare, tapi ketika sepupu2ku pada pergi ke depan, aku kembali ke dapur dan menikmati gulai pare tanpa nasi..hehehee.. nakal.
Aah masa kecilku. Indah untuk di kenang.
Waktu itu aku dan kakak serta sepupuku di ajak nginap kerumah pengasuh adek. Kampungnya agak jauh dari tempat Uwak. Jadi kesana mesti naik mobil. Sampai di rumahnya aku terkesiap, Ternyata kakak pengasuh punya 12 saudara. dan bayangin aja saudara terkecilnya baru berumur satu tahun sementara anak pertama berumur 30 tahunan. Ehmm,,
Besoknya kami di ajak main kesawahnya, katanya baru mau bertanam,. Jalan kaki loh, ada hampir 14 kiloan lah. Cuapeekk buangeet.. Awalnya kami lewat jalan tanah yang super duper becek. Mesti hati2 melangkah tapi setelahnya kami lewat jalan aspal yang bagus banget,kiri kanan ada pohon2 kelapa sawit yang tertata rapi. Terus agak lima kiloan lah kami belok ke jalan tanah berumput.. kiri kanan ada semak belukar, ada pohon kelapa juga. indah lah. Tak lama jalanan mulai nggak bersahabat lagi, becek. Mesti hati2 karena ada kotoran sapinya juga..iiwwww... Akhirnya kami tibalah di arela persawahan setelah melewati sungai kecil berbatu yang jernih... Masuk ke semak-semak lagi, terus sungai dalam jernih tak berbatu. Waktu itu rasanya aku yang paling pendek.Orang-orang tinggi itu termasuk kakak dan sepupuku bisa melewati sungai dengan baik. Sungai itu kiri kanannya penuh semak belukar, ada ikan-ikan kecilnya yang menyingkir ke balik akar2 semak jika ada yang lewat. aku cuma terdiam di pinggir sungai. Mikir, gimana lewatnya ya. Kalau aku masuk airnya sampai ke pinggang. Kalau jinjit bisa sih nggak sampai pinggang. Tapi otomatis pakaianku basah. Oalah si orang2 dewasa bukannya bantuin mikir malah ngomel2 di seberang suruh cepetan. Alhasil basah dah bajuku.
Sampai disawah, langsung naik ke pondok. ngadem di jendela pondok yang menghadap ke hamparan sawah yang belum ditanam. Turun ke sawah mencari liling, tau liling nggak?? Sejenis keong gitu tapi hitam bentuknya lebih kecil dikit, enak di gulai campur rebung. Tapi lagi asyik2nya nyari liling di sawah yang belum ditanami itu, saudara2 kakak pengasuh yang ada di pondok berteriak mengingatkan.. Woi,hati2 di sana banyak lintahnya...""HHaaaaaaaaaaaahhhhhhh..." aku dan sepupuku langsung loncat-loncat ke pematang sawah lari ke pondok. tapi byuuurrr... aku dan sepupuku nyebur kesawah. basah. Secepat kilat aku naik ke pematang terus lari ke pondok. Dan mencak-mencak memeriksa kaki dan pakaianku kalau2 ada lintah atau pacat. Yup. beres. Aman.. Tapi sepupuku kasihan, dihinggapi 2 atau tiga lintah. Hiks. Ya itulah pengalaman masa kecil.
Bagaimana pengalamanmu sobat????? ^^
Pages
▼
Pages
▼
Pages - Menu
▼
Sabtu, 27 Oktober 2012
Jumat, 26 Oktober 2012
Antara Aku dan Dia
Keluargaku memutuskan untuk berlibur ke tempat Uwak. Desa kecil itu memberi kenangan sendiri bagi ibu. Ya, dari tiga anak nenek cuma Uwak yang tetap tinggal di desa itu bersama istri dan ketujuh anaknya. Seperti biasa kalau udah di kampung ibu hobinya keluyuran,mengunjungi sanak keluarga. Kakak-kakak dan adikku lebih suka di rumah daripada ikut ibu jalan-jalan. Aku bosan di rumah, pergi jalan-jalan sama ibu kayaknya asyik tuh.
Kami menyusuri jalan aspal yang sepi, di kiri dan kanan jalan hanya ada kebun-kebun coklat yang agak serut tak terurus. Belok ke jalan yang lebih kecil,kali ini jalan tanah yang becek karena hujan semalam. Udara pagi ini juga agak lebih dingin dari biasanya. Hemm, bagiku yang orang kota udara desa benar2 sejuk. Aku suka. Di ujung jalan ada sungai kecil, tak ada jembatan jadi kalau mau menyeberang ya harus masuk ke sungai. Airnya agak keruh, batu2an di dasar sungai pun jadi tidak kelihatan. Lama ku menatap tumbuhan air berbunga ungu yang ada di tepian sungai itu, cantik..entah apa namanya. Seekor capung berwarna merah hinggap sebentar lalu pergi.
"Hei, cepatlah!" kata ibu yang sudah menyeberang sungai memanggilku. Aku terkesiap, cepatnya..
"Ehm tunggu Bu.." perlahan ku lepas kaos kaki dan sendal jepitku, memegangi mereka dengan tangan kanan sementara tangan kiriku mengangkat rok sampai setengah betis. hati-hati aku menyeberangi sungai yang lebarnya tidak sampai dua meter itu.
Tapi tepat di tengah-tengah sungai seorang laki-laki berjalan mendekat dan menyapa ibuku. Aku pun terlonjak kaget,menurunkan rokku. Tapi sayang tangan kananku tak sempat menjangkau sendal jepit yang terjatuh (beruntung kaos kakinya nggak ikut jatuh). Sendal itu terbawa arus sungai yang agak deras.
Ya, sendal yang tak terselamatkan.
"Maaf membuat kaget." ujar laki-laki yang berdiri di sebelah ibu, merasa bersalah.
"Hemm,.." jawabku datar. Menyembunyikan kakiku di balik rok yang menjuntai basah.
"Hanif, apa kabarmu?" tanya Ibu seraya menatap takjub ke laki-laki tinggi di sebelahnya itu. Hmm, ibu bukannya iba melihat anaknya tak punya alas kaki.
" Baik tante.." senyum cowok tegap itu. Aahh lagaknya kayak seorang tentara saja. Aku mengalihkan pandangan ke sungai yang telah menghanyutkan sendalku.
"Sudah selesai kuliahmu ya. Tante dengar kamu sudah dapat kerja di Jakarta. Wah, hebat kamu Nif. Langsung dapat kerja..." tutur ibu bangga.
"hmm, iya Tante. Alhamdulillah." jawabnya sopan.
Hanif siapa dia? Aku baru sekali ini melihatnya. Tapi sudahlah nggak peduli. Gara-gara dia sendalku hilang. Aahh. gimana ni. Rupanya cowok itu memperhatikanku juga. Karena tiba-tiba dia bertanya.
"Anak tante??"
"Iya, kenalin dia Mira.. Baru aja tamat SMA." kedua orang itu memandangku. "Mira, sini!" panggil ibu.
Aku menatap ujung rokku. Tidak mungkin. Kalau aku berjalan otomatis kakiku akan terlihat.
Seperti memahami suasana laki-laki itu melepas sendal jepitnya lalu berjalan mendekatiku. Dan menotodorkan sendal jepitnya.
"Ah, Hanif tidak perlu.."kata ibu melarang. Aku pun heran.
"Maaf ya. Saya salah tadi mengangetkan. Pakai saja. Rumah saya dekat kok dari sini." senyumnya ramah. Aku tertunduk.
"Makasih.." Sendal itu tak langsung ku pakai.
Setelah laki-laki bernama Hanif itu pergi barulah aku buru2 memasang kauskaki dan sendal jepit itu lalu mengikuti ibu yang sudah berjalan jauh meninggalkanku karena terlalu lama.
Ya, pagi itu adalah perjumpaanku dengannya, Hanif....
Kami menyusuri jalan aspal yang sepi, di kiri dan kanan jalan hanya ada kebun-kebun coklat yang agak serut tak terurus. Belok ke jalan yang lebih kecil,kali ini jalan tanah yang becek karena hujan semalam. Udara pagi ini juga agak lebih dingin dari biasanya. Hemm, bagiku yang orang kota udara desa benar2 sejuk. Aku suka. Di ujung jalan ada sungai kecil, tak ada jembatan jadi kalau mau menyeberang ya harus masuk ke sungai. Airnya agak keruh, batu2an di dasar sungai pun jadi tidak kelihatan. Lama ku menatap tumbuhan air berbunga ungu yang ada di tepian sungai itu, cantik..entah apa namanya. Seekor capung berwarna merah hinggap sebentar lalu pergi.
"Hei, cepatlah!" kata ibu yang sudah menyeberang sungai memanggilku. Aku terkesiap, cepatnya..
"Ehm tunggu Bu.." perlahan ku lepas kaos kaki dan sendal jepitku, memegangi mereka dengan tangan kanan sementara tangan kiriku mengangkat rok sampai setengah betis. hati-hati aku menyeberangi sungai yang lebarnya tidak sampai dua meter itu.
Tapi tepat di tengah-tengah sungai seorang laki-laki berjalan mendekat dan menyapa ibuku. Aku pun terlonjak kaget,menurunkan rokku. Tapi sayang tangan kananku tak sempat menjangkau sendal jepit yang terjatuh (beruntung kaos kakinya nggak ikut jatuh). Sendal itu terbawa arus sungai yang agak deras.
Ya, sendal yang tak terselamatkan.
"Maaf membuat kaget." ujar laki-laki yang berdiri di sebelah ibu, merasa bersalah.
"Hemm,.." jawabku datar. Menyembunyikan kakiku di balik rok yang menjuntai basah.
"Hanif, apa kabarmu?" tanya Ibu seraya menatap takjub ke laki-laki tinggi di sebelahnya itu. Hmm, ibu bukannya iba melihat anaknya tak punya alas kaki.
" Baik tante.." senyum cowok tegap itu. Aahh lagaknya kayak seorang tentara saja. Aku mengalihkan pandangan ke sungai yang telah menghanyutkan sendalku.
"Sudah selesai kuliahmu ya. Tante dengar kamu sudah dapat kerja di Jakarta. Wah, hebat kamu Nif. Langsung dapat kerja..." tutur ibu bangga.
"hmm, iya Tante. Alhamdulillah." jawabnya sopan.
Hanif siapa dia? Aku baru sekali ini melihatnya. Tapi sudahlah nggak peduli. Gara-gara dia sendalku hilang. Aahh. gimana ni. Rupanya cowok itu memperhatikanku juga. Karena tiba-tiba dia bertanya.
"Anak tante??"
"Iya, kenalin dia Mira.. Baru aja tamat SMA." kedua orang itu memandangku. "Mira, sini!" panggil ibu.
Aku menatap ujung rokku. Tidak mungkin. Kalau aku berjalan otomatis kakiku akan terlihat.
Seperti memahami suasana laki-laki itu melepas sendal jepitnya lalu berjalan mendekatiku. Dan menotodorkan sendal jepitnya.
"Ah, Hanif tidak perlu.."kata ibu melarang. Aku pun heran.
"Maaf ya. Saya salah tadi mengangetkan. Pakai saja. Rumah saya dekat kok dari sini." senyumnya ramah. Aku tertunduk.
"Makasih.." Sendal itu tak langsung ku pakai.
Setelah laki-laki bernama Hanif itu pergi barulah aku buru2 memasang kauskaki dan sendal jepit itu lalu mengikuti ibu yang sudah berjalan jauh meninggalkanku karena terlalu lama.
Ya, pagi itu adalah perjumpaanku dengannya, Hanif....
Kamis, 25 Oktober 2012
Keluarga
Keluarga...
Apa yang terpikir olehmu jika membaca kata itu??? Kalau aku mikirnya keluarga itu masyarakat kecil yang terdiri dari pemimpin dan rakyatnya. Pemimpinnya adalah ayah dan rakyatnya adalah ibu dan anak-anak. Tapi definisi keluarga ini sebenarnya lebih besar dari itu...
Duduk bersama di ruang keluarga, berbincang-bincang, saling bertukar informasi, menumpahkan kasih sayang, bersenda gurau...intiya ngumpul...
Ya, sebuah keluarga normal.. Tentu setiap orang mengharapkannya.
Tapi, tidak sedikit keluarga yang anggotanya sibuk sendiri-sendiri, ayah sibuk dengan kerjaannya, ibu sibuk dengan perkumpulan ibu2nya, anak sibuk dengan teman2nya. Hingga akhirnya tidak ada interaksi keluarga normal dalam keluarga itu. Sibuk sendiri-sendiri.
Ada juga yang kedua orangtuanya bercerai atau salah satunya meninggal hingga anaknya tak terperhatikan. Anak pun mencari perhatian di luar, bisa lewat jalan positif tapi tak sedikit yang melapiaskannya dengan cara yang negatif bahkan merugkan orang lain..
Ya, betapa rumitnya sebuah keluarga...
Sedih jika satu sama lain sudah tidak saling memperdulikan lagi.
Buat yang mau berkeluarga, berpikirlah jauh ke depan. Bukan sekedar menjadikan pernikahan hanya untuk melampiaskan nafsu saja kalau begitu apa bedanya kita dengan hewan. Menikah. Tidak sesimpel yang dikira. Itulah awal perjuangan dalam hidup saat dirimu benar-benar menjadi tumpuan bagi keturunanmu kelak. Ciptakan keluarga yang normal.
Tuntun keluargamu baik akidah dan akhlaknya. dekat dengan Sang Pencipta. Buat amalan harian untuk keluarga. Adakan acara keluarga yang semakin mengeratkan hubungan satu sama lain antar keluarga. Beri perhatian penuh untuk anak-anak baik agama, pendidikan dan kesehatannya.
Persiapkan anak2mu sejak 20 tahun sebelum mereka lahir...
Apa yang terpikir olehmu jika membaca kata itu??? Kalau aku mikirnya keluarga itu masyarakat kecil yang terdiri dari pemimpin dan rakyatnya. Pemimpinnya adalah ayah dan rakyatnya adalah ibu dan anak-anak. Tapi definisi keluarga ini sebenarnya lebih besar dari itu...
Duduk bersama di ruang keluarga, berbincang-bincang, saling bertukar informasi, menumpahkan kasih sayang, bersenda gurau...intiya ngumpul...
Ya, sebuah keluarga normal.. Tentu setiap orang mengharapkannya.
Tapi, tidak sedikit keluarga yang anggotanya sibuk sendiri-sendiri, ayah sibuk dengan kerjaannya, ibu sibuk dengan perkumpulan ibu2nya, anak sibuk dengan teman2nya. Hingga akhirnya tidak ada interaksi keluarga normal dalam keluarga itu. Sibuk sendiri-sendiri.
Ada juga yang kedua orangtuanya bercerai atau salah satunya meninggal hingga anaknya tak terperhatikan. Anak pun mencari perhatian di luar, bisa lewat jalan positif tapi tak sedikit yang melapiaskannya dengan cara yang negatif bahkan merugkan orang lain..
Ya, betapa rumitnya sebuah keluarga...
Sedih jika satu sama lain sudah tidak saling memperdulikan lagi.
Buat yang mau berkeluarga, berpikirlah jauh ke depan. Bukan sekedar menjadikan pernikahan hanya untuk melampiaskan nafsu saja kalau begitu apa bedanya kita dengan hewan. Menikah. Tidak sesimpel yang dikira. Itulah awal perjuangan dalam hidup saat dirimu benar-benar menjadi tumpuan bagi keturunanmu kelak. Ciptakan keluarga yang normal.
Tuntun keluargamu baik akidah dan akhlaknya. dekat dengan Sang Pencipta. Buat amalan harian untuk keluarga. Adakan acara keluarga yang semakin mengeratkan hubungan satu sama lain antar keluarga. Beri perhatian penuh untuk anak-anak baik agama, pendidikan dan kesehatannya.
Persiapkan anak2mu sejak 20 tahun sebelum mereka lahir...
Pernikahan Berbalut Kesederhanaan
Benar-benar sederhana,
rasanya inilah pernikahan sederhana yang pernah aku datangi. Amat sangat
sederhana sampai-sampai aku menitikkan air mata haru.. Tapi kedua mempelai
terlihat bahagia, walau aku tak tahu apa yang terjadi di belakang mereka.
Mungikin mereka menitikkan air mata lebih dariku, entah air mata duka ataukah
air mata bahagia.
“saya terima
nikahnya…….binti….dengan mas kawin lima puluh ribu rupiah di bayar tunai…”
“hah, lima puluh ribu
rupiah???” bisikku kala itu. Hati ku terkesiap tak percaya, uang yang besarnya
sama dengan gajiku mengajar privat 90 menit itu menjadi mas kawinnya. Bagiku
itu mas kawin termurah yang pernah ku dengar selama aku menghadiri akad nikah
orang-orang sebelumnya.
Tapi, kedua mempelai
tidak malu. Bahkan mempelai wanita tersenyum senang. Bahagia menatap laki-laki
yang telah sah menjadi suaminya itu.
Aku, benar-benar tak
percaya ini nyata. Simpel. Tak ada campur baur wanita dalam pesta walimah
mereka. Laki-laki di ruang depan, wanita di ruang belakang. Hanya mengundang
kerabat dekat dan tetangga di sekitar rumah. Tak ada tenda terpasang di halaman
rumah apalagi panggung pengantin dan organ. Tak ada hiburan, yang ada hanyalah
do’a tulus para tamu undangan. Makanannya pun sangat biasa, cukup untuk tamu
dan sedikit berlebih untuk dibagikan ke sanak keluarga. Ya inilah pernikahan
sederhana yang sangaat sederhana.
Mempelai wanita berias
ala kadarnya. Mempelai wanita duduk bersama para tamu wanita.
Ya,, begitulah
pengalamanku dalam menghadiri pesta sederhana seseorang yang ku sayangi…
Sengaja menungguku pulang untuk menghadiri akad nikahnya. Memelukku erat sambil
menitikkan air mata ketika menyambutku di depan pintu rumahnya. Menghapus
kembali make-up nya untuk bermunajat kepada Sang Pencipta di waktu Dhuha..
Ketika sampai di KUA, kedua
mempelai sudah ada, sanak keluarga terdekat kedua mempelai sudah ada. Tapi aku
langsung terkesiap karena acara belum dimulai hanya gara-gara menungguku saja..
Sebegitu spesialnyakah diriku. Mungkin, iya.
Semoga ada hikmahnya..
Rabu, 10 Oktober 2012
Surat Cinta Untukku
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ya Allah karena Cinta-Mu kami dipertemukan dalam Ukhuwah Indah penuh cinta padaMu, pada kekasihMu dan agamaMu. Walau harus berpisah,namun kami percaya tak akan lama, karena Engkau telah merencanakan yang lebih indah.....
Ukhti... Semoga cinta Nya tetap bersamamu...
Sungguh bingung harus bagaimana mengungkapkan dengan kata-kata karena aku bukan seorang pujangga, aku hanya manusia yang ingin menyampaikan Cinta pada saudaranya..
Ku ingat awal pertemuan denganmu,sesosok sederhana dan tak suka berumbar kata, namun itulah yang membuat engkau istimewa di hadapan-Nya... dan istimewa dalam perjalanan Cinta Ukhuwah kita...
Tetaplah jadi dirimu sendiri, jangan pernah memaksakan diri untuk menjadi orang lain dan jangan memaksakan untuk menempuh jalan orang lain yang belum tentu cocok dan baik untuk engkau tempuh.
Aku yakin kamu bisa membuktikan pada semua bahwa kamu bisa meraih semuanya dengan caramu sendiri..
Allah lebih tahu bagian terbaik untuk hamba-hamba-Nya, Baik dipandangan kita belum tentu baik di pandangan-Nya...
Ukhti yang ku sayangi.. carilah seseorang di tanah minang yang bisa engkau jadikan temap ceritamu dan kawan seperjuanganmu dalam meraih cintaNya..
Ku mohon janganlah dirimu memendam deritamu sendiri, berbagilah pada saudara-saudaramu..
Ukhti, afwan selama ini aku belum bisa menunaikan semua hakmu dan tak selalu bisa menghiburmu di kala tetesan air mata berjatuhan di pipimu..
Ku berdo'a semoga engkau menemukan saudara yang lebih baik dan bisa lebih mengerti dirimu.. Namun jangan lupakan kami yang tetap ada di Bengkulu menunggumu kembali dengan cerita dakwahmu...he...hee..
Ukh, ku harap semua memori lika-liku perjalanan kita di Bengkulu bisa menjadi pelajaran untuk menjadi yang lebih baik lagi..
Cintaku tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata, biarlah hanya Allah azza wajallah yang tahu betapa besar cintaku padamu karena-Nya....
Azizah
Senin, 08 Oktober 2012
Beri Aku Semangat Lagi
Pagi itu, aku terdiam di dalam kamar. Sendiri. Ah, tidak...ada dua malaikat yang selalu mengawasi tingkah lakuku. Tapi, pagi itu aku merenung. Mata sembab. Tangan perih menahan sakit. Aku tersadar. Allah masih izinkan aku bernafas pagi ini. Itu artinya Allah mashi beri aku kesempatan untuk beramal. Pagi itu, aku menangis lagi. Terdiam menatap layar laptop penuh tulisan.
***
Aku jadi ingat kisah di fotokopian.. Waktu itu aku sedang menunggu kopian rapor ku di fotokopian SMA. Ruangan kecil yang penuh sesak dengan siswa-siswi Smanli yang sama sepertiku. Menunggu ijazah. Alhamdulillah ada satu kursi kosong, aku putuskan duduk disana. tapi ketika sedang duduk menatap punggung teman2 yang antri di depan mein fotokopi, tiba-tiba tepat di depan wajahku ada wajah asing yang menatapku lekat. Tidak sampai 50 cm jarak kami, aku kesal, orang iseng pikirku. Aku langsung menunduk. Tapi wajah itu malah semakin membungkuk ke arahku dan semakin dekat. Aku jadi nggak nyaman. Apalagi ketika dia mulai mengeja namaku yang ada di sampul rapor. ya ampuun ni orang bener2 deh isengnya. Hupff..
Selidik punya selidik nih, ternyata dia pikir aku wanita berjilbab yang fotonya paling gede di buku tahunan sekolah. Ya aku dikira akhwat pemegang gitar yang tampil di buku itu.. Hemm.. Di bilang bukan tapi dia nggak percaya.. (aku kan akhwat yang pegang mik di sebelahnya,hehehe..)
Gara-gara itu aku jadi inget lagi sore-sore hujan-hujanan di pantai akhirnya masuk ke Bengkulu Indah Mall. Dan memutuskan foto di sana untuk buku tahunan sekolah itu. (maksa banget). Ceritanya kamu satu kelas konvoi kemana-mana sesuai tema masing2 grup. berhubung aku dan temanku yang sama-sama berjilbab nggak punya konsep apa-apa, jadilah comot-comot alat muski orang untuk foto wajib tahunan itu. nggak ikhlas.. apalagi nih karena kami cuma berdua, jadi satu halaman full hanya untuk foto kami, 1 grup. gleekk..
Untung yang iseng nanyain tu foto cuma satu orang aja.. Benar-benar iseng wajah cowok mantan kelas 3 Ipa 2 itu. Belakangan aku tau kalo dia ternyata pacar teman dekatu di SMP dulu. hemmm..
Malu juga udah nekat ajak dia ikut kajian, ternyata dia bukan hanif seperti yang ku kira. Ternyata dia laki-laki bebas yang bebas..(maksudnya??? hanya aku dan Allah yang tau,hehehee)..
Di kesempatan lain aku malah ngajak anak Drumbend ikut kajian, atau mayoretnya yang pakek pakaian suueekksiii abiss.. atau anak basket, atau anak paskibra, atau anak tarii... hehehee ada-ada aja semangatku dulu.. (Alhamdulillah ada juga yang mau ikut meski cuma sekali, dan untungnya kajiannya hari jumat hari dimana cewek2 wajib pakai jilbab.--aneh jga kok jumat aja sih pakek jilbabnya-- jadi dia nggak jadiin jilbab sebagai alasan nggak mau ikut ngaji... tapi adek itu cuma sekali aja ikut kajian, selanjutnya dia sibuk dengan tim basket dan paskibranya.. Ya, hidayah.. mahaaalll)
Atau kisah lain ketika teman sebangkuku yang super pintaar itu. Ku ajak juga ikut kajian. Sekali ini aja, kalau suka Alhamdulillah, kalau nggak suka kan nggak rugi2 juga kok... Akhirnya dia ikut (setelah dibujuk juga sama teman2 lain yang juga ikut kajian).. dan sekarang aku malah kalah darinya. di UI sana dia berkibar dan mengembangkan sayap di dunia dakwah. Jilbabnya juga makin lebar aja.. Ahh, aku iri..
Dan kisah pacar adekku, yang sms nyasar ke hapeku. minta ketemuan. Aku ceramahin, dan akhirnya dia ikut kajian..
Dan masih banyak kisah lain tentang semangat dakwah.. di SMA dulu..
***
Semua kisah dan masih banyak lagi tentang semangat menuntut ilmu dan mengajak orang lain untuk ikut menikmatinya. Semangat yang kini luntur lantaran aku sudah tidak mengenali diriku sendiri..
Yaa Rabb, angkat aku kembali. Dalam kelemahan diri ini, jangan Kau serahkan aku pada diriku.. Aku tak sanggup Ya Allah... Aku tak sanggupp...
***
Aku jadi ingat kisah di fotokopian.. Waktu itu aku sedang menunggu kopian rapor ku di fotokopian SMA. Ruangan kecil yang penuh sesak dengan siswa-siswi Smanli yang sama sepertiku. Menunggu ijazah. Alhamdulillah ada satu kursi kosong, aku putuskan duduk disana. tapi ketika sedang duduk menatap punggung teman2 yang antri di depan mein fotokopi, tiba-tiba tepat di depan wajahku ada wajah asing yang menatapku lekat. Tidak sampai 50 cm jarak kami, aku kesal, orang iseng pikirku. Aku langsung menunduk. Tapi wajah itu malah semakin membungkuk ke arahku dan semakin dekat. Aku jadi nggak nyaman. Apalagi ketika dia mulai mengeja namaku yang ada di sampul rapor. ya ampuun ni orang bener2 deh isengnya. Hupff..
Selidik punya selidik nih, ternyata dia pikir aku wanita berjilbab yang fotonya paling gede di buku tahunan sekolah. Ya aku dikira akhwat pemegang gitar yang tampil di buku itu.. Hemm.. Di bilang bukan tapi dia nggak percaya.. (aku kan akhwat yang pegang mik di sebelahnya,hehehe..)
Gara-gara itu aku jadi inget lagi sore-sore hujan-hujanan di pantai akhirnya masuk ke Bengkulu Indah Mall. Dan memutuskan foto di sana untuk buku tahunan sekolah itu. (maksa banget). Ceritanya kamu satu kelas konvoi kemana-mana sesuai tema masing2 grup. berhubung aku dan temanku yang sama-sama berjilbab nggak punya konsep apa-apa, jadilah comot-comot alat muski orang untuk foto wajib tahunan itu. nggak ikhlas.. apalagi nih karena kami cuma berdua, jadi satu halaman full hanya untuk foto kami, 1 grup. gleekk..
Untung yang iseng nanyain tu foto cuma satu orang aja.. Benar-benar iseng wajah cowok mantan kelas 3 Ipa 2 itu. Belakangan aku tau kalo dia ternyata pacar teman dekatu di SMP dulu. hemmm..
Malu juga udah nekat ajak dia ikut kajian, ternyata dia bukan hanif seperti yang ku kira. Ternyata dia laki-laki bebas yang bebas..(maksudnya??? hanya aku dan Allah yang tau,hehehee)..
Di kesempatan lain aku malah ngajak anak Drumbend ikut kajian, atau mayoretnya yang pakek pakaian suueekksiii abiss.. atau anak basket, atau anak paskibra, atau anak tarii... hehehee ada-ada aja semangatku dulu.. (Alhamdulillah ada juga yang mau ikut meski cuma sekali, dan untungnya kajiannya hari jumat hari dimana cewek2 wajib pakai jilbab.--aneh jga kok jumat aja sih pakek jilbabnya-- jadi dia nggak jadiin jilbab sebagai alasan nggak mau ikut ngaji... tapi adek itu cuma sekali aja ikut kajian, selanjutnya dia sibuk dengan tim basket dan paskibranya.. Ya, hidayah.. mahaaalll)
Atau kisah lain ketika teman sebangkuku yang super pintaar itu. Ku ajak juga ikut kajian. Sekali ini aja, kalau suka Alhamdulillah, kalau nggak suka kan nggak rugi2 juga kok... Akhirnya dia ikut (setelah dibujuk juga sama teman2 lain yang juga ikut kajian).. dan sekarang aku malah kalah darinya. di UI sana dia berkibar dan mengembangkan sayap di dunia dakwah. Jilbabnya juga makin lebar aja.. Ahh, aku iri..
Dan kisah pacar adekku, yang sms nyasar ke hapeku. minta ketemuan. Aku ceramahin, dan akhirnya dia ikut kajian..
Dan masih banyak kisah lain tentang semangat dakwah.. di SMA dulu..
***
Semua kisah dan masih banyak lagi tentang semangat menuntut ilmu dan mengajak orang lain untuk ikut menikmatinya. Semangat yang kini luntur lantaran aku sudah tidak mengenali diriku sendiri..
Yaa Rabb, angkat aku kembali. Dalam kelemahan diri ini, jangan Kau serahkan aku pada diriku.. Aku tak sanggup Ya Allah... Aku tak sanggupp...
Bicara Untuk Sekeping Hati yang Hilang
Septri daripada sibuk
dengan hal-hal yang nggak bermanfaat terus kamu terpuruk semakin jauh ke dalam,
akhirnya lenyap..mendingan sekarang kamu bangun deh!! lihat dunia, dunia itu
bukanlah kamarmu yang sempit ukuran 3 x 4 itu.. tapi dunia tu luuuuaaaaassss
bangeeett, jauuuuuuhhh lebih luas dari itu..
Sep lihat!! teman-temanmu sudah menyemai padi, sudah menggarap ladang.. kamu masih aja duduk2 di pondok, lihatlah orang-orang udah mulai menanam bibit-bibit padi. yang akan mereka panen hasilnya di syurga nanti.. kamu???!! heh, apa yang akan kamu panen nanti, menanam pun kamu nggak pernah!
Septri! udahan malas-malasannya. bekerjalah. lakukan amalan-amalan sholeh. yang bisa membantu tegaknya agama Allah, biarpun sedikit yang penting ada. nggak usah peduliin kata orang-orang yang iri sama kamu. Cukuplah Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman yang akan menilai usahamu...
Sep lihat!! teman-temanmu sudah menyemai padi, sudah menggarap ladang.. kamu masih aja duduk2 di pondok, lihatlah orang-orang udah mulai menanam bibit-bibit padi. yang akan mereka panen hasilnya di syurga nanti.. kamu???!! heh, apa yang akan kamu panen nanti, menanam pun kamu nggak pernah!
Septri! udahan malas-malasannya. bekerjalah. lakukan amalan-amalan sholeh. yang bisa membantu tegaknya agama Allah, biarpun sedikit yang penting ada. nggak usah peduliin kata orang-orang yang iri sama kamu. Cukuplah Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman yang akan menilai usahamu...
Septri!! ingat senyuman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam semalam (dalam mimpi semalam aku bertemu Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam.. ketika adzan berkumandang, beliau berjalan ke Mesjid menoleh ke belakang lalu tersenyum padaku... MasyaAllah.. benarkah itu??? beberapa waktu yang lalu mimpi sholat di Mesjid nabawi dekat makam Rasulullah dan malam tadi........... pertanda apakah ini???? atau ini hanya godaan syaitan????)
Septri!! aku ingin kamu yang dulu. yang semangat menuntut ilmu dan semangat pula membagikannya ke adik2 mu.. aku ingin kamu yang dulu yang selalu berlomba-lomba melaksanakan amalan yaumi sebaik mungkin. yang nggak tinggal tahajjud, dhuha, ngaji minimal 1 juz, muhasabah, de el el bersama teman2 di kajian.. aku rindu kamu yang dulu yang nggak mau tinggal dari yang lain. Yang selalu nggak peduli ketika mereka heran kamu ajak ngaji. Padahal baru sekali itu bertemu. Yang nggak pernah bosan sms ajak mereka kajian. Atau mengkritik pakaian mereka yang nggak sesuai dengan yang kamu pahami. Atau mengkritik mereka yang bertindak tidak sesuai dengan ajaran islam yang kamu dapatkan. Aku rindu kamu yang dulu yang sangat peduli dengan perkembangan zaman, dan menyesuaikannya dengan ilmu yang kamu pahami, mengkritik yang tidak sesuai lalu membenarkannya. Mana septri yang seperti itu??? Kemana kamu pergi, sep??? Aku rindu kamu… sangat rindu… hikss
Septri!! kini kamu memang sudah berpisah dengan teman2 baikmu itu, teman2 shelahah mu itu, tapi mereka tetap ada mereka ada dan selalu berbuat kebaikan di tempat mereka sekarang.. kamu masih berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya Allah sep!! ayo bangkit.. jangan sampai kamu malu dihadapan Allah kelak.. Sep!! Bangkitlah... ku mohon.. bangkitlah.. untukku... amalan baikmu....
Septriii.....
