Pages

Pages

Pages - Menu

Sabtu, 29 September 2012

Celoteh Pagi di Dapur

Ceritanya pagi itu aku sama Nisa kebagian jatah piket masak harian. Pagi-pagi buta dah bangun. Sholat,terus baca Al-Qur'an bentar abis tu langsung caw ke dapur. Go..go..masaaakk...Kupas bawang merah, iris bawang prai dan seledri.. giling-giling cabe..de el el.. Goreng-goreng..masak-masak.. wah,aromanya suueeedaaappp....hhmmm..Menu pagi ini, nasi goreng.. taraaaaa.... ehm..nyammii... Wah,ada yang kurang lengkap nih, ulang lagi giling-giling bawang, pecahin telur, ambil garam, kocok-kocok.. goreng sedikit-sedikit.. taraaaa... omelet telur jadi.. Lengkap sudah.. tinggal tambah kerupuk..dan bawang goreng kalo mauu..

ya, masak-masaknya emang udah jadi.. Sukses masak cepat, jam 7an pagi udah siap. Tapiiiiii....huaaa...teman-teman yang mau makan manaaaaa???? (menoleh ke belakang,tempat tidur..oalah masih pada malas-malasan,mentang-mentang kegiatannya baru mulai jam 9an.. Teruuuss.. yang cowok-cowok belum pada nongol nih,kecuali Ferdi, Ikad sama Bang Nico yang emang rajin sholat subuh ke Mesjid, sisanya yang lima lagi jangan di tanya jam 7 nih dimana...

"Nisa ya Tri, pokoknya nggak mau punya suami yang suka bangun siang kayak gitu.. Oggaaahhh!!!! Ya Rabb, berilah Nisa suami sholeh, rajin bangun pagi dan nolongin Nisa ya Rabb..aamiin"

"aamiin...(aku juga Ya Rabb)..." senyumku padanya mengiyakan..

Ya, iyalah siapa yang mau sama cowok malas, bangun siang, nggak sholat pula.. Mau jadi apa rumah tangga?? Belum lagi kalau ada cerita marah-marah, mecahin barang samapai mukul istri.. Tiiiiddaaaakkkkk, nggak mau cowok kayak gitu.. nggggaaaakkkk... Teriakku dalam hati,hehehe.. Serius nii..

Sambil menyiapkan menu makan siang, kami sibuk membahas masalah kemalasan ini mulai dari A-Z.. Diskusi abiss...Ya, jangan sampailah kita mendapatkan pasangan seperti itu..

"Tapi, ya Nis. dari orang-orang yang akau liat. Kalau uda nikah adan punya anak cowok tu bertanggung jawab kok. Jangan yang bangun siang kayak gitu.. Muncul sisi kebapak-annya.."

"tetep aja aku nggak mau Tri. Kalu bisa dapetnya yang udah tanggungjawab sejak sebelum nikah lah. Supaya pas nikah tinggal aplikasinya aja lagi. Aku kan mau cari imam yang membawaku ke Surga bukan malah menjebloskan aku ke neraka.. Bisa-bisa sengsara aku punya suami pemalas..." gerutu Nisa sambil menggoreng kentang..

'Iya-iya.." senyumku lagi...

Jumat, 21 September 2012

Celoteh Pagi..

Tentang dandelion... gara-gara aku hobi ngoleksi mereka meski cuma animasi blog atau gambar-gambar di laptop,temanku jadi ikut-ikutan menyukai mereka (wah,ge er,orang udah suka dandelion sejak masih jabang bayi,hihihi).. Keren,ketika layar sentuh selebar lapangan (lebay) itu di sentuh dandelion beterbangan.. suuukaaa.... Kenapa ya,aku suka banget dandelion.. satu lagi aku suka sakura (meski belum pernah lihat yang asli,aku juga suka daun ginko,bentuknya unik)... Eh,jangan salah,aku ini pengoleksi tanaman-tanaman unik looh meski cuma daunnya aja atau mahkotanya aja..hehe. Dan akan kuselipkan mereka diantara halaman-halaman buku yang ku bawa. Kurang kerjaan banget ya..

Pernah juga nih suatu hari setelah ambil wudhu dan bersiap-siap pergi ke mushola (jarak tempatnya cukup jauh,karena tempat wudhu akhwat di mushola itu nggak tertutup),aku menyempatkan diri membungkuk di bawah tangga untuk mengambil daun lucu bermahkota empat (memangnya daun ada mahkotanya???). Teman seperjalanan sampai bingung.. ngapain??? Aku cuma menjawabnya dengan tersenyum cengengesan..hehehe...

Hobi,ya itulah hobi muslimah ini. Kalau ada rumput atau bunga rumput yang unik mataku langsung tak berkedip memandangi mereka lama. Kemudian perlahan tanganku mendekati mereka dan sreekk!! mereka pun terpisah dari bagiannya,nyelip bersama yang lainnya di dalam buku sakuku.. Maaf ya, wah kalau anak tekhnik lingkungan memergokiku mungkin aku bisa kena pidana kali ya?? (anak tekhnik lingkungan atau anak hukum nih ceritanya??)

Kalau dibilang bukan pecinta alam, ya rasanya nggak juga. Karena aku cinta bangeeett sama alam.. Sayang aja belum berani menggabungkan diri dalam kelompok pecinta alam yang hobi mendaki gunung itu.. Kalau di tempatku namanya MAPALA.. Maklumlah ada yang membatasiku untuk tidak bergabung.. ^^

Selasa, 18 September 2012

Ga Je aja deehh

Aku harus mulai menulis dari mana ya??? Sudah tiga hari ini semangat menulis lenyap. Bluph! Hilang ditelan gundah gulana hati.. Owh,yang hilang bahkan tak sekedar semangat menulis tapi semangat hidup (oalah berbahaya banget)..

Jum'at lalu saat berjalan-jalan menuju mesjid untuk pengajian,aku sempatkan berdialog "aneh" dengan seorang teman.. Saking sibuknya dengan pikiran sendiri aku sampai lupa apa yang dibicarakan teman seperjalananku itu..(Maaf,ya ;)...).. yang ku ingat waktu itu setelah hampir tiga per empat perjalanan aku tiba-tiba buyar dari lamunanku dan menanggapi perkataannya tentang pembimbing tugas akhir...

Hemm,saat ini semangat hidup saja sudah syukur.. ucapku datar..(yahhh,nggak nyambung banget sama percakapannya,jelas banget aku nggak nyimak kata-katanya..

Sejak awal keberangkatan menuju Mesjid Kampus itu aku heboh pengen cokelat.. Rencananya sih mau cari silver queen  (bener nggak tulisannya??)..Tapi di kampus mah sulit nyarinya, jadilah temanku ngajak nongkrong di kantin Mesjid. Bukan makan cokelat tapi makan bakwan.. Hihihi,ada-ada aja...

Sering mataku keluyuran mencari sosok-sosok yang membuat hatiku tenang. Sosok hamba yang dekat dengan Rabbnya..

Ketika sholat Dzuhur kemarin di mushola, tepat ketika salam aku melihat seorang ukhti tersenyum manis ke arahku. Dia baru saja menyelesaikan sholat sunah rawatib qobliyah Dzuhur. Melihatnya hati jadi tenang. Mungkin karena wajah itu dekat dengan Rabbnya. Mukenanya melambai-lambai tertiup angin.. Sholat dzuhur yang khusyuk..

Tadi ketika menunggu bus kampus, seorang akhwat melintas didepanku terburu-buru. Ku rasa aku mengenalnya. Dia menoleh ke belakang. Yup,aku mengenal wajah itu, meski kami baru satu kali bertemu. Mantan murid bimbel kakakku.. Mahasiswi tingkat satu itu, aku menyukainya. Semangatnya,pakaiannya... kecerdasannya...sepertinya dia akan mengikuti jejak kakaknya yang sama-sama akhwat itu..

Siapa lagi ya orang-orang yang ku lirik selama tiga hari ini. Orang-orang yang mengingatkanku pada sosok-sosok jilbaber penyemangat yang menemani hari-hariku di bangku SMA dulu..

Seperti biasa aku akan sangat memperhatikan setiap jilbaber yang melintas dihadapanku. Ya,aneh mungkin kebiasaanku ini.. Tadi waktu menunggu teman di halte lagi-lagi seorang akhwat menyita pikiranku. Buku divakaruni yang ada ditanganku tertutup lagi. Aku menghentikan bacaanku dan lupa menandainya,sementara pikiranku sibuk berargumen dengan penampilan si akhwat.. (Hemm...berpikir keras)

Tiba-tiba kok aku mau bercadar ya... Huuummm,aneh.. Aku membayangkan seseorang kalau mikir tentang cadar ini.. Seorang teman yang menawarkan penjahit cadar handal di kota tempat tinggalnya sekarang..Bogor...Ukhti,ukhti...

Aku jadi ingat malam di kota Hujan itu,di pelataran mesjid kami duduk. Membicarakan banyak hal,mulai dari hal yang serius sampai hal-hal lucu yang pernah kami alami bersama. Hemm,malam itu ukhti ku benar-benar kecewa dengan keadaan sekitarnya. Aku cuma bisa menanggapinya dengan senyum datar. Sebentar sekali kami bercakap-cakap tapi percakapan itu berkesan banget. Menampar hati yang penuh dosa. (rumit.....).. Jilbabnya dalam..

Hati, iya hati ini kuncinya. Hati ini yang harus dibenahi sekarang.. Percuma kan sibuk memperbaiki penampilan fisik tapi hati tak berubah.. tetap gersang penuh noda-noda hitam.. noda-noda dosa..



Sabtu, 15 September 2012

Ibu, I Love You

Siang ini hujan..
Hujan yang mengingatkanku pada suatu hari dimana pakaianku basah seutuhnya.. Tidak bukan milikku saja tapi hujan juga membasahi pakaian ibu dan adikku.. Siang itu dalam dinginnya perkebunan. Tanah yang lembab dan licin.. Bau daun-daun basah.. Kelelawar terusik,berkemul didalam goa.. Air sungai deras dan keruh.. Siang itu, siang dimana aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, siang dimana aku belajar bagaimana beratnya perjuangan ibu mencari sesuap nasi untukku.. Siang itu aku belajar betapa payahnya mengais rezeki.. Dan kini beliau sudah pergi... Tak ada nasi dan lauk di bawah tudung tanpa usaha sendiri...

Bukan,bukan anak kecil yang selalu dimanja.. Bahkan jauh-jauh hari sudah dibiasakan mandiri.. Tak ada pakaian bersih jika tidak mencuci sendiri.. Tak ada seragam rapi jika tidak menggososk sendiri.. Bersyukur punya ibu yang membiasakan anak-anaknya mandiri.. Hingga dia bisa tersenyum dihari ketika aku hanya mendapati tubuhnya yang dingin membiru...senyuman ibu..senyuman terakhirnya....

membantu suami membuatnya harus meninggalkan anak-anak untuk bekerja sendiri mengurus rumah..kami tidak sedih,kami bangga punya ibu yang tegar..meski sakit dan baru beberapa hari diizinkan meninggalkan rumah sakit, tapi ibu tak mau alpha mendatangi sawahnya...

Siang itu pun hujan, ketika aku membawa payung di tangan kiri sementara tangan kanan memegangi payung yang melindungi diri ini...

Siang i
tu ibu diam dibawah pondok kecilnya, ada unggun disampingnya.. Bukannya ikut ajakan anaknya untuk pulang, ibu malah menyuruhku duduk dan memeriksa api unggun yang hampir padam itu. Apa?? ku pikir ibu minta dihidupkan kembali apinya ternyata di balik kayu-kayu yang mulai gosong itu ada ubi kayu yang hampir matang... Hemm ibu, tau aja kalau anaknya lapar..

Aku suka hujan, karena hujan menyimpan banyak kenanganku bersama ibu.. Ibu I Love You...

Jumat, 14 September 2012

Kembalikan...

Semangat hidup saja sudah bersyukur, banget...

Hmm, yah! Kemana lagi kan ku cari semangat hidup itu??
Banyak hal terjadi, seakan ku tak peduli. Pasrah.
Biarlah begitu, biarlah begini. Toh, aku juga tak bisa menentukan yang terbaik buatku.
Cukuplah...

Hemm, Yah! Mau kemana lagi aku??
Mau apa lagi aku??
Apa tergetan hidupku...Bisa dikatakan sekarang nafasku hampir mendekati nol..

Keinginanku kabur, terbang bersama angin sore ini..
Hampa. Hati ini benar-benar kosong..
Piuhf...

Ayolah, kembalikan semangat hidupku..
Ambil kembali angan-angan itu...
Hiduplah..hiduplah semangatku...


Kamis, 13 September 2012

Dia Datang Lagi, Lalu Pergi...


Apakah bahu itu akan berguncang lagi???

Apakah bantal itu akan basah lagi???

Apakah.............

Senyumnya masih jelas, senyum seorang ibu..

Dia,datang.. Lagi lagi datang. Dalam mimpiku...Hidup bersamaku..

Seperti apa rasanya punya ibu?

Bagaimana perhatiannya?





Selasa, 11 September 2012

Bukannya Menjauh, Tapi Malah Ingin Semakin Dekat...


Foto-foto itu hanyalah foto biasa. Tentang keluarga. Melihatnya, bukannya benci dan tak suka. Tapi hati tergerak ingin lebih dekat dan mengenal karakter mereka satu per satu. Ingin ngobrol bersama berbagi cerita. Ya, aku senang melihatnya. Seperti melihat keluarga sendiri.

Tentu hati menginginkan keluarga Islami, ada ayah yang taat, ibu yang taat dan saudara yang taat. Rindu keluarga yang Tahajjud berjama'ah, membaca Al-Qur'an bersama. Tapi, hati tetap tak hendak bahkan terpikir pun tidak untuk menjauhi mereka yang mungkin saat ini belum mendapatkan hidayah (Apakah diri ini sudah mendapat hidayah????).

Aku merindukan mereka meski belum pernah bertemu. Ingin bersalaman dan memperkenalkan diri. Jalan sama-sama, makan sama-sama, masak bersama, semuannya bersama. Dalam keluarga itu.

Tapi semua harapan yang meluap-luap ini surut kembali ketika satu kata terbaca, ya satu kata... yang terletak beberapa kata setelah kata selebihnya...

Tiga halaman, penjelasan yang sangat singkat (tapi agak sulit dicerna)...

(Seperti biasa jadi lupa makan kalau lagi nge-blog...penyakit...)

Ehm, minimal foto yang ada dihalaman pertama lebih keren lah dibandingkan dua foto sebelumnya. Mungkin terbersit pertanyaan jadi maksud nulis blog ini apa??? Hehehe, nggak ada mau nulis aja..

Kisah keluarga seorang teman yang unik...

***
Dulu juga pernah kirim-kiriman foto kayak gini sama teman-teman dari Cilegon. Meski belum pernah bertemu tapi hati udah nyatu aja sama mereka. Persahabatn kami hanya karena...Allah...

Sekarang melihat foto-foto ini serasa dapat keluarga baru, tapi tidak.... karena satu kata yang membatasi itu...

***
Cuma cerita aja, Maaf kalau nggak ada manfaatnya...^^





Senin, 10 September 2012

Tiga Minggu di Perkebunan Kopi bagian Satu


Setelah berhasil “memaksa” anaknya yang baru lulus SMP dan SMA ini seorang ibu tertawa sumringah. Menyiapkan berbagai keperluan dapur untuk bekal di kebun nanti. Dua orang anaknya cowok dan cewek itu terdiam saja, pasrah.

Hujan rintik-rintik menyambut mereka bertiga, di talang gunung agung itu. Udara dingin, sungguh kontras dengan udara kota yang baru sekitar tiga-empat jam yang lalu mereka tinggalkan.

Pukul dua belas siang. Mereka istirahat sebentar di rumah kenalan ibunya. Anak cewek memaksa agar mereka melanjutkan perjalanan. Si ibu manut aja. Tapi baru beberapa rumah melangkah dan hampir memasuki areal perkebunan langkah mereka terhenti. Hujan lebat. Si ibu memutuskan berteduh dibawah rumah kayu dua tingkat yang dekat dengan mereka. Bagian bawah rumah itu hanya disanggah beberapa tiang dan dipenuhi kayu bakar. Disanalah mereka duduk.

Jam di HP yang hampir kehabisan baterai itu sudah menunjukkan pukul satu siang. Berarti sudah masuk waktu Dzuhur. Si anak cewek memaksa ibunya untuk melanjutkan perjalanan karena dia mau sholat. Tapi hujan benar-benar deras. Ibunya menyarankan anaknya untuk sholat di rumah tempat mereka istirahat tadi. Tapi si anak menolak, karena tadi dia lihat di rumah itu ada anjingnya. Dia ragu takut tempatnya kena najis.

Si anak terus memaksa. Hujan sedikit reda tapi masih cukup deras. Karena si anak terus memaksa akhirnya si Ibu mengambil semua perelngkapannya, menjunjungnya dan berdiri. Ayo! Ujarnya.

Sesekali si anak melihat ibunya yang kesusahan berjalan di belakangnya membawa beban yang berat. Ibu, biar aku bantu. Katanya menawarkan pertolongan tapi si ibu menggeleng. Terus saja jalan hujan makin lebat!

Jarak yang cukup jauh harus mereka tempuh. Mendaki bukit yang terjal, menuruni jalanan yang licin, melewati sungai deras yang meninggi karena hujan, dan masih banyak lagi rintangan. Hujan juga masih deras. Mereka baru sampai ke Talang yang mereka tuju sekitar satu setengah jam lagi itupun kalau jalannya cepat. Tapi hujan begini dengan beban yang berat tentu perjalanan mereka akan lebih lama. Perkebunan kopi itu sepi, para pemiliknya pastilah berteduh di rumah masing-masing.

Beberapa kali si anak cewek tergelincir. Si adik cowok berinisiatif mencari kayu sebagai tongkat untuk kakaknya itu. Baiknya.

Sampai di Talang (tapi bukan talang yang mereka tuju) si ibu berkata, coba ibu pinjam mukena orang sini, mungkin kamu bisa numpang sholat. Si anak senang. Tapi rasa senang itu nggak bertahan lama karena ternyata orang yang ditanya nggak punya mukena. Ya, Allah beliau islam nggak sih??? Masa nggak punya mukena. Terus sholatnya gimana???

Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang amat payah dan menguras tenaga,mereka sampai juga di rumah yang dituju. Sholat. Itulah yang pertama kali dilakukan si anak ketika sampai.

Hujan sudah reda, tinggal sisa-sisa embun dan udara sejuk yang dingin yang menandakan kalau tadi baru saja hujan deras mengguyur tempat itu. Indahnya. Talang ditutupi kabut. Sungguh Indah.


Perpustakaan Lantai Tiga


Buku merah berjudul "Saudariku Kapan Kembali ke Jalan Tuhanmu?" menyibukkanku hingga sedikit nggak ngeh dengan keadaan sekitar. Perpustakaan itu ramai. Tapi tidak mengurangi kefokusanku menyimak kata demi kata dalam buku itu. Hingga akhirnya terdengar percakapan dengan bahasa asing. Awalnya nggak peduli, paling mahasiswa UNAND lagi ngobrol pakek bahasa asing. Tapi kedengarannya begitu fasih. Akhirnya aku terganggu juga. Berpindah pandangan dari buku menoleh ke belakang.

Yup, ternyata tebakanku salah (hehehe, PeDe pula tuuh..). Beneran orang asing yang lagi ngobrol di belakang. Kuperhatikan sesaat. Dua mahasiswi asing, satunya ku taksir tingginya sekitar 190 meter, yang satu lagi 160 meter. Putih. Dengan celana balon dan kaus tak berlengan.. Santainya.. Sedetik kemudian aku sudah sibuk dengan buku lagi. Tapi lagi2 nggak konsen. Ku lirik ke belakang, dua mahasiswi asing itu mendekati pintu ruangan perpus. Ada ibu-ibu penjaga perpus yang lagi ngobrol di pintu. Mereka mendekat ragu. (Ibu ini bisa bahasa inggris nggak ya.. mungkin itu yang mereka pikirkan,heheh..)

Aku kembali sibuk dengan bukuku (buku minjem).

"Ehmm, sorry..What time is it?"

Terdengar suara seorang perempuan bertanya dalam bahasa Inggris. Wah, akhirnya mereka ngobrol juga sama ibunya.. ujarku dalam hati. Tapi kok suaranya deket banget di telingaku???

Aku menoleh ke samping. Ya ampuun, rupannya aku yang ditanya. Tadinya mau jawab pakek bahasa Inggris juga tapi karena kagok di todong gitu akhirnya aku hanya memperlihatkan layar samsung putihku yang ada tulisan jamnya di sana.. (ih, malu-maluin...)

"Oh, thank you.." jawabnya kemudian sambil tersenyum manis.. (huhuhu.... Sorry ya..)

Kalau dipikir-pikir nyambung juga mimpiku semalam sama kisah siang ini. Ketemu sama bule and ngobrol. Ehm, ini ya arti mimpi itu. Lumayanlah. Tadi kirain aku bakalan belajar keluar negeri gitu terus ngobrol-ngobrol sama bule. rupanya masih di UNAND.. hehehe...

Sabtu, 08 September 2012

Allah Dekat denganmu, Dek..


Janji untuk bertemu, tapi tak kesampaian. Rumah bercat kuning terang itu lengang tak berpenghuni. Ku telpon nggak diangkat, sms nggak dibalas (kayak iklan aja). Dari teman katanya Mbak Indah ke kampong.

Aku merindukannya sejak masih di Padang. Merindukan janjinya untuk berjumpa denganku kalau aku sudah sampai di Bengkulu. Tapi, inilah yang kudapat. Ya, mungkin Allah belum mengizinkan kami bertemu.

“Allah dekat denganmu, Dek.” Itulah nasehat yang selalu diulang-ulangnya setiap kali aku sms kalau lagi sedang sedih. Ya, Allah dekat dengan kita jadi kenapa harus bersedih???


dari segala kepenatan,ada ALLAH Maha Pemberi kekuatan.
dari segala kegelisahan, ada ALLAH Sang Penentram Jiwa.
dari segala kedukaan, ada ALLAH Sang Penghapus Lara.
Jangan ragu jangan bimbang ALLAH akan selalu bersama kita
Dia Maha Mendengar segala pinta 
Maha Pengabul setiap do'a hamba-Nya


Murabi pertamaku, yang mengajariku banyak hal. Hingga aku sedikit demi sedikit memanjangkan kain penutup kepala ini. Hingga aku sedikit demi sedikit belajar tentang arti kehidupan. Arti hidupku.

Sesakit Itukah???


Handphone bordering, dari kakak. Bilang kalau Ayah ke Pino sama Wak David katanya Dee mau melahirkan. Sore.

Handphone bordering, pukul 19.50. Dari kakak, ayah nyuruh sholat hajat karena Dee sudah dua hari kontraksi tapi anaknya belum lahir-lahir juga.


Handphone bordering, pukul 20.04. Dari ayah, ayah minta do’a dan sholat hajat untuk kelancaran persalinan Dee.. dari kejauhan aku bias mendengar rintihan suara Dee menahan rasa sakit yang amat sangat.. Seperti apakah sakitnya, melahirkan???

Handphone bordering, pukul 20.24. dari ayah, Dee sudah melahirkan. Alhamdulillah selamat dua-duanya. Bayi laki-laki. Dari kejauhan aku bias mendengar suara tangis bayi. Bayi mungil itu, cucu pertama ayah. Bayi mungil itu ponakan pertamaku. Bayi mungil itu buah hati pertama Kakak dan suaminya. Bayi mungil itu Muhammad Daffa Pratama.

Daffa, jadi anak sholeh ya…^^

Handphone bordering 20.28. Dari kakak, bilang kalau Dee sudah melahirkan.. (Udah tau..^^)… Tanya ayuk Yuni,”Yuk, melahirkan itu sakit ya??”…”Ya,ampuunn Seep, Sakiiiiiitttt bangeetttt. Kayak mau mati aja rasanya..”

Pengakuan dari ibu dua anak itu membuat hati ini bergidik, sesakit itukah?? Seperti mau mati??? Seperti itukah ibuku sewaktu melahirkan aku dulu?? Ya, Allah jika iya. Sungguh besar pengorbanan seorang ibu… Lalu sudah sejauh mana baktiku terhadap ibu???

Sepotong Kisah Sedih Ba'da Dzuhur


Otaknya pecah, keluar berhamburan bersama darah segar.
Tubuh itu lemah tergeletak tak berdaya di atas aspal berdebu.
Tak ada yang peduli, tergerak untuk memindahkannya dari tengah jalan.

Jarak itu semakin dekat, beberapa pelajar laki-laki yang baru saja pulang dari sekolah menatap iba ke arahnya.
Salah seorang dari mereka melepaskan tasnya dan menyerahkannya ke temannya lalu menyingsingkan lengan bajunya.
Mengangkat tubuh penuh darah itu dari jalanan ke pinggir.

Jarak sudah semakin dekat, hingga terlihat kepalanya yang hancur.
Allah!
Sementara nafasnya tersengal-sengal.
Tak ada lagi suara, hanya tatapan kosong mata yang masih utuh.
Sungguh malang.
Siapa pelakunya? Tak bertanggung jawab.

Kambing kecil merah....

***
Itulah sepotong kisah sedih hari ini. Betapa sabar si kambing kecil menghadapi kematian. Tanpa teriakan. Ya Rabb, bagaimana sakitnya sakaratul maut itu? Padahal sebagian rasa sakitnya sudah ditanggung oleh Insan yang mulia, Rasulullah.. Ya Rabb, hati ini masih sering lalai mengingatmu.

Malaikat maut mengintai kita 70 kali selama sehari, lalu patutkah kita tertawa terbahak-bahak?

Ya Allah, jaga aku...

Selasa, 04 September 2012

Where is my voice, Ya Allah??

Kehilangan satu nikmat. Sudah hampir tiga hari hidup tanpa suara. Begitu tersiksa, dan sulit mengungkapkan kata-kata.

"aa...eeh...%&$#@@@#..."

"apa??"

"##@%%>>>...."

"haah???"

Gimana rasanya coba kalau kita bicara tapi lawan bicaranya nggak ngerti???
Sedih..bangettt..

Beginikah rasanya bisu itu???
Ya, Rabb.. Sungguh mahal nikmat suara yang Engkau berikan. Tapi kini nikmat itu Engkau ambil dariku. Akankah kembali lagi Ya Rabb???

Diskusi jadi nggak lancar, untuk Dedi sabar menanti setiap kata yang berusaha ku rangkai dengan terpatah-patah walau ada gurat kebingungan yang tersirat. Atau Bang Riko yang berpikir kalau Umi adalah aku karena aku hanya diam dan sedikiiit sekali bicara. Sulit...

Besok, bagaimana caranya mengajar???

Ya, Rabb..

Minggu, 02 September 2012

Kehilangan


Afra menatap ke langit, suatu hari akan lewat di atas langit itu pesawat yang membawa seseorang yang sangat dinantikannya. Bukan datang mendekat tapi pergi menjauh. Afra hanya bisa diam, tak bisa mencegahnya. Wanita berjilbab lebar itu pasrah, menanti ketentuan Allah saja. Tapi, jauh di lubuk hatinya harapan itu tetap bersinar. Afra berharap Allah akan mempertemukan mereka kembali.

Tiga tahun yang lalu saat Afra baru mengenal Daffa, Daffa terlihat berbeda dari teman-temannya. Cowok tinggi, putih dan tampan itu sangat tenang. Sangat jauh berbeda di bandingkan teman-teman seangkatannya atau pun senior-senior yang lain yang bawaannya marah-marah terus. Pernah suatu hari Afra mendapati Daffa sedang sholat dhuha di mushola. Waktu itu Afra dan teman-teman sesama jilbaber hendak sholat dhuha juga. Lama Afra terdiam di atas sajadah ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sangaat merdu. Ya, Daffa lah pemilik suara merdu yang ada di balik hijab itu..

Ketika mereka berpapasan di koridor kampus atau di gedung perkuliahan, Afra lebih sering melihat Daffa menundukkan pandangan. Diam-diam selama dua tahun Afra memendam kekaguman terhadap Daffa. Mereka sering bertemu, dalam agenda-agenda yang diadakan pihak BEM Fakultas. Dalam suatu rapat Afra kadang nggak konsen, karena dirinya sibuk mencari sosok pemuda yang telah merebut hatinya itu. Dan Afra akan menunduk dalam manakala mendapati sosok yang dicarinya itu. Afra tahu perasaannya tidak pada tempatnya. Beberapa kali Afra memarahi diri sendiri jika dia berbuat khilaf. Dua tahun, ya selama waktu itu Afra berhasil menyembunyikan perasaannya.

Kini dalam hitungan bulan, pemuda itu akan pergi. Kembali ke keluargannya. Jarak yang sangat jauh akan memisahkannya dari sosok yang dikaguminya itu. Entahlah, apakah pemuda itu merasakan kehilangan yang sama. Afra tak berani banyak berharap. Biarlah waktu yang akan menjawabnya..

Dalam barisan buku-buku di rak Afra melihat dua buku karangan Salim A Fillah, satu tahu yang lalu buku itu berhasil dibelinya melalui perantara Daffa. Mahasiswi tingkat akhir itu bertanya-tanya beraninya dia menitip buku-buku itu pada orang yang bahkan tidak mengenalinya dengan baik.

Afra juga mengenang tentang cerita "layang-layang putus", sebentar lagi layang-layang itu akan segera pergi meninggalkannya. Akankah takdir mengembalikan layang-layang itu padanya??

Menatap ke rak bagian tengah, Afra dapati sepasang CD berisi rekaman kajian. File-file yang baru bisa dipindahkan ke laptop dan belum sempat disimaknya. Afra senang mendapatkan ilmu dari orang yang dulu begitu eksis di matanya. Senang karena orang itu berkanan berbagi ilmu dengannya.

Dia akan pergi...
Dan Afra tak tahu kapan dia akan kembali..
Ataukah mungkin dia akan melupakannya.. 
Afra benar-benar tak mengetahuinya sama sekali..

Teringat do'a manis dari seorang sahabat.... Yang sedikit mengobati hati Afra, bahwa dirinya tak punya kuasa menetukan siapa pasangan hidupnya karena semua itu sudah di atur oleh Sang Maha Pengatur.. Nama itu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.....


Ya Allah…kurniakanlah kami pasangan yang soleh/sholehah…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya…
yang sentiasa memperbaiki dirinya…
yang sentiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…

kabulkan ya Allah…
kerana hati kami teramat lemah…


oh Allah,
kami mohon ampun
atas dosa selama ini

dosa-dosa kami..
andai tak menjalankan perintahMu
andai tak pedulikan NamaMu
andai tenggelam melupakan diriMu

oh Allah,
sempatkanlah kami untuk bertaubat
untuk hidup di jalanMu
untuk penuhi keewajibanku
sebelum tutup usia ini..
sebelum kami kembali kepadaMu..

Aamiin ya Rabb



Sabtu, 01 September 2012

Nasehat Seorang Teman


Mengatakan sesuatu halal atau haram butuh kepada Ilmu. ilmu yang dimaksud Ilmu Agama. para ulama telah sepakat Ilmu agama bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah yang shahih yang diajarkan Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam kepada para sahabatnya.
Apakah nasyid islami saat ini hukumnya haram atau tidak, ini menarik sekali.

Tetapi yang apakah setiap orang berhak menghukumi halal haram ? tentulah tidak . karena kita jauh dari ilmu
Maka dari itu kita haruslah merujuk kepada Ulama. Karena Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (an-Nahl : 43)

Semua kaum muslimin sepakat Ahli Ilmu Agama adalah Ulama
Inilah pendapat ulama mengenai nasyid (music islami)


Setelah membaca artikel diatas APA BEDANYA NASYID SAAT INI DENGAN NYANYIAN / LAGU SAAT INI YANG MEMBUAT KAUM MUSLIMIN TERLENA , TIDAK MAU BELAJAR ILMU ISLAM DAN LUPA BERZIKIR KEPADA ALLAH?

Syubhat yang biasanya datang dari orang-orang yang menggemari “musik Islami” (nasyid) adalah mereka berdalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah dibacakan syair-syair di hadapan beliau dan beliau mendengarkannya, bahkan beliau pernah meminta shahabat untuk membacakannya.

Jawaban untuk permasalahan ini adalah bahwa syair-syair yang dibacakan di hadapan Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidaklah dilantunkan dalam bentuk paduan nada/suara dengan lirik lagu apalagi alat musik, tetapi itu hanyalah sekadar bait-bait syair Arab yang berisi kata-kata bijak dan tamsil, penggambaran sifat keberanian dan kedermawanan. Lengkapnya di http://muslimah.or.id/manhaj/bingkisan-istimewa-untuk-saudariku-agar-bersegera-meninggalkan-nasyid-%E2%80%9Cislami%E2%80%9D-2.html

Kalaulah metode dakwah dengan music itu baik tentulah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallah dan Shahabat radhiyallahu ‘anhum beserta para ulama pernah melakukannya. karena satu-satunya metode dakwah telah berhasil menaklukkan dan mengobrak-abrik 2 kekuatan besar (roma dan persia) yang dimotori Umar Ibnu Khatab adalah metode dakwah Rasulullah. yang memberikan semangat juana kepada Salman Al Farisi, yang membakar kapal-kapal tentara Thariq bin Ziyad diwaktu menaklukkan spanyol (andalusia) hingga akhirnya ia menang ialah dakwah tauhid murni yang di ajarkan Rasulullah kepada sahabatnya.

Allahu'alam kebenaran ini datang dari ALLAH dan Rasul-Nya semoga ini dapat memotivasi kita untuk bersemangat mempelajari ILMU AGAMA ISLAM yang mulia ini, karena kita menyadari begitu jauhnya kita dan begitu hausnya kita kan ilmu agama

MOHON DIPERHATIKAN: KESALAHAN PENULISAN "AAMIIN" & SALAM

Kesalahan penulisan Aamiin Yang sering Terjadi
...Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

1. ”AMIN” (aliF dan mim sama-samapendek),artinya AMAN, TENTRAM

2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek),artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN

3.”AMIIN” (alif pendek & mim panjang),artinya JUJUR TERPERCAYA

4.“AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang),artinya YA TUHAN, KABULKANLAN DOA KAMI

Terus Bagaimana dengan pengucapan/ Penulisan “ Amien“ ???

Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do ’a ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra). Dan di-klaim sebagai DAJJAL

HINDARI PENULISAN ASS, ASSKUM, MOHD, MOSQUE, 4JJI, MECCA !!

Bagi akhy wa Ukhty yang masih suka menggunakan kata ...

''Ass,Askum ''dalam ucapan salam.

''Mohd'' untuk panggilan nama Nabi MUhammad.

''Mosque'' untuk panggilan sebuah masjid.

''4JJI'' untuk panggilan Allah SWT.

''Mecca'' untuk sebutan Mekah.

Gunakan sesuai dengan aturannya yuuuk...

Karena arti dari kata tersebut adalah

Bismillah..

Jika kita seorang Muslim atau Muslimah, alangkah baiknya mengindahkan hal yang mungkin kita anggap kecil tapi besar makna dan pengaruhnya.

*janganlah bilang Mosque tapi Masjid,karena Organisasi islam menemukan bahwa Mosque adalah nyamuk.

*jangan menulis MECCA tapi MEKAH,karena MECCA adalah rumah anggur/bir.

*jangan menulis MOhd tapi Muhammad,karena Mohd,. Adalah anjing bermulut besar.

*jangan menulis 4JJI tapi Allah SWT,karena 4JJI aRtinya for judas Jesus Isa al masih.

*jangan menulis Ass atau Askum dalam salam tetapi Assalammu'alaikum (karena salam adalah doa,atau jika tidak sempat lebih baik tidak sama sekali),karena Ass artinya pantat mu, dan Askum artinya celakalah kamu.

INGAT !!!

ASS = PANTATMU

ASKUM = CELAKALAH KAMU

Maka sampaikanlah salam karena itu DOA, minimal Assalamu'alaikum

Semoga bermanfaat

TUNDUKKAN EGO KITA SAUDARAKU... DENGARLAH JERITAN HATI KITA YG SEBENARNYA HAUS AKAN KENYAMANAN HIDUP !!!


Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh..   

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIIM… 

Saudaraku…engkau teramat kusayangi dan kucintai kerana ALLAH… Sauda...raku…jazakumullahu khairan katsiran engkau mau mendengarkan celoteh kecil dr saudarimu ini…   Yuuk.. kita tundukkan sejenak kepala kita, kita tundukkan hati kita, konsentrasikan pikiran kita. Hadirkan kekhusyu’an untuk bermunajat kepadaNYA.. buanglah segala ego dan kesombongan dalam diri kita..marilah qt hanya mengingat ALLAH, ALLAH, dan hanya ALLAH saja tujuan hidup qt.  

Saudara ku tau kah kau? Di suatu pagi.. ketika diri ini terbangun.. seketika itu ku coba tengok dan menyapa mentari pagi yg sudah menampakkan cahayax utk menerangi kehidupan hari ini… Dan saudaraku…Tatkala kudatangi sebuah cermin, Tampak sesosok yang sudah lama kukenali, Namun ANEH, Sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang kulihat. 

Tatkala kutatap wajah,hatiku bertanya apakah wajah ini yang kelak kan bercahaya, bersinar indah di syurga sana?    Ataukah wajah ini yang akan hangus legam di neraka Jahanam?? Tatkala kutatap mataku,galau hatiku bertanya...
Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan menatap Allah,menatap Rasulullah...menatap kekasih Allah kelak?? Ataukah mata ini yg akan menyelamatkan diri terhindar dr api neraka kerana sering menangis takut kerana ALLAH   …. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:    “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu kembali kedalam asalnya. Dan debu di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam.” Ataukah mata ini yang akan terbeliak.melotot,menganga terburai menatap neraka jahanam...Wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini??    

Tatkala kutatap mulut, apakah mulut ini yang akan mendesah penuh kerinduan mengucap LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH saat malaikat maut datang menjemput...ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah terjelir dengan lengking jeritan pilu, yang akan menggugah sendi-sendi setiap pendengar, KERANA bukan syahadat yg mampu diri ini lafadkan melainkan lagu2 jahiliyyah yg sering diri ini lantunkan setiap hari.. naudzubillah..dan ataukah menjadi mulut pemakan buah zaqqum Jahanam, yang getir menghunus penghancur usus... Apa yang engkau ucapkan wahai mulut yang malang?! Berapa banyak hari yang remuk dengan pisau kata-katamu yang menghiris tajam, berapa banyak kata-kata yang manis semanis madu yang engkau ucapkan untuk menipu...?!Betapa jarang engkau jujur,betapa langkanya engkau menyebut nama Tuhanmu dengan tulus, betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Tuhanmu mengampuni segala dosa yang telah kau perbuat?!     

Tatkala kutatap tubuhku,apakah tubuh ini yang kelak kan penuh cahaya,bersinar,bersukacita,bercengkerama di syurga sana? Ataukah tubuh yang akan tercabuk-cabuk hancur mendidih di dalam lahar membara Jahanam, terpasung tanpa ampun,derita yang takkan pernah berakhir... taukah?? Kita mendapat makanan gratis yang mampu membakar isi perut, minuman yang mampu membocorkan usus serta fasilitas kolam renang gratis yang berisi nanah dan darah. Beberapa pembantu gratis juga disiapkan untuk menyayat lidah orang-orang yang suka menyakiti hati orang lain, maupun menyeterika perut orang-orang yang tidak membayar zakat. Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan...? berapa banyak orang yang engkau dzalimi dengan tubuhmu...? berapa banyak hambamu hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu?!Wahai tubuh, seperti apakah isi gerangan hatimu? Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu, atau sebagus daki yang melekat ditubuhmu? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau sebusuk kotoranmu?!     

Betapa berbeda, apa yang nampak dalam cermin dengan apa yang tersembunyi... Betapa aku telah tertipu... Aku tertipu oleh topeng... Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, betapa pujian yang terhambur hanyalah memuji topeng, betapa yang indah ternyata hanyalah memuji topeng... Sedangkan aku, hanyalah selonggok sampah busuk yang terbungkus...Aku tertipu...Aku malu... Saudaraku, kini…..   

Saudariku...Bayangkanlah tatkala waktu yang berputar saat ini akhirnya terhenti. Bayangkanlah tatkala kepala kita semua akhirnya tertunduk menyesali setiap detik yang telah berlalu dan jiwa pun menjerit meminta kembali untuk diberi kesempatan berbuat kebaikan. Saat-saat dimana gelak tawa akan berganti dengan tangisan. Saat-saat dimana diri kita akhirnya terjaga dari tidur panjang penuh mimpi yang tidak kita sadari selama ini..   

Rasulullah  shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : 
“Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tak sanggup kalian lihat. Kudengar suara gesekan dilangit (berkriut-kriut), langit sedemikian padatnya, tak ada tempat kosong bahkan seluas empat jari sekalipun karena langit dipenuhi para malaikat yang sedang bersujud kepada Allah SWT. Demi Allah ! Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang akhirat), niscaya kalian tidak akan pernah tertawa sedikitpun, bahkan kalian pasti akan banyak menangis (karena takut). Dan niscaya kalian tidak akan pernah bisa bersenang-senang dengan istri-istri kalian, dan niscaya kalian akan keluar berhamburan ke jalan-jalan (berteriak) untuk memohon (ampun) dan memanjatkan doa kepada Allah (meminta perlindungan dari bencana akhirat) yang akan Dia timpakan” ( HR Tirmidzi & Al-Bukhari)   

Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah saw bersabda9): "Allah SWT pada hari Kiamat akan bertanya kepada orang (yang tidak berani menyampaikan kebenaran): "Apakah yang membuatmu tidak mau mengucapkan (kebenaran) terhadap keadaan ini dan itu?' Orang tersebut menjawab: 'Karena takut (kemarahan) masyarakat!' 

Maka [Dia] berfirman: ‘Akulah Yang lebih baik kamu takuti’”].     "Demi Allah, seandainya jenazah yg sedang kalian tangisi bisa berbicara sebentar, lalu menceritakan (betapa sakitnya saat sakratul mautnya) pd kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, lalu kalian mulai menangisi diri kalian sendiri (karena teringat dosa-dosa)."(Imam Ghazali) .. 

Ya Ukht YA AKHIi, Masihkah kita bangga dgn kemaksiatan-kemaksiatan yg kita perbuat??...     

Ya Allah Ya Rabbi…
Jadikanlah cinta kami kepada-Mu merupakan sebenar-benarnya bentuk cinta sejati…
Bukan hanya di lidah, namun jauh terhunjam dan mencengram di relung hati..   
Sehingga tiada yang lain yang kami cari..
Dan tiada kami bergerak, menggeliat, berkata dan berucap selain agar Engkau ridho dan mengasihi kami…

Ya Allah Ya Rabbi…
Jadikanlah orang-orang yang kami kasihi saat ini..sebagai perantaraan bagi kami untuk semakin mencintai dan mendekati-Mu dalam arti sebenarnya dan bukan malah sebaliknya…
   
Ya Allah Ya Rabbi…
Bangunkanlah kami dari tidur panjang ini.
Sehingga kami tersadar dan mendapati, bahwa sesungguhnya Engkaulah maksud dan tujuan kami dan ridho-Mu lah yang kami cari…   AAMIIN…AAMIIN.. YA RABBAL..’ AALAMIIN       

Wassalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Catatan seorang saudara, semoga bermanfaat..

CURHATKU...


Betapa kesal rasa di hati, entahlah. Ku rasa ada masalah dengan hatiku. Aku merasa jaauuuhh dari Allah. Walau tampaknya banyak yang care, tapi entahlah tak terasa di hati. Tak mengena di jiwa. Kesal..! Entah siapa yang salah. Mereka yang tak peka, atau aku yang terlalu sensi. Ah,..! Kesal aku di buatnya..
Aku ingin sendiri, menyepi. Memikirkan masa depan dan harapan-harapan yang dulu pernah ku bangun. Aku ingin berteman dengan orang-orang optimis. Yang punya cita-cita besar. Dan aku tidak temukan itu disini. Aku terkungkung dalam tempurung orang-orang yang sibuk dengan urusan pribadi. Aku mau hijrah.
Aku ingin berteman dengan orang-orang shaleh, yang mengaplikasikan Al-Qur’an. Aku ingin memiliki sahabat seperti sahabat-sahabat Rasulullah. Yang peduli sesama hingga menularkan kepeduliannya itu padaku. Aku ingin berteman dengan para dermawan yang mampu membuatku dermawan. Aku ingin mengembalikan semangat hidupku. Namun, dimanakah kan ku cari orang-orang seperti itu. Sedang kini aku sedang sakit. Sakit jiwa dan raga. Aku sakiitt..
Aku.. siapa aku. Bahkan sekarang aku sudah tidak tahu siapa diri ini. apa maunya. Apa yang terbaik untuknya. Apa yang tidak disukainya. Bagaimana menyelesaikan masalahnya. Tak tahu lagi, aku tak tahu lagi bagaimana caranya. Ya Allah, jangan Kau serahkan aku pada diriku sendiri. Aku tak mampu mengurus diriku sendiri. Aku tak mengerti siapa aku..

Perjalanan


Hari sudah tampak gelap ketika bapak menghentikan motornya di sebuah kedai di pinggir pantai desa itu. Ku pikir bapak mau makan, tapi tidak. Bapak bilang dia sedikit ngantuk. Jadi istirahat dulu. Aku paham, perjalanan dari kampung bapak ke kota memang jauh. Enam jam perjalanan bawa motor bukan hal yang mudah. Belum lagi ditambah hambatan di jalan. Ah, aku yang hanya menumpang di balakang bapak pun berasa sangat lelah. Ngantuk.
            Langit mendung, gelap. Tanda-tanda mau hujan. Kami berteduh di bawah pondok. Tepatnya kedai yang ditinggal pemiliknya. Bapak menyodorkan selembar uang sepuluhribuan padaku. Menyuruhkun membeli minuman. Kubeli beberapa botol minuman ringan. Lalu kusodorkan ke bapak. Tapi bapak menolak dan malah menyuruhku menghabiskannya saja. Ternyata bapak bukannya mau minuman tapi bapak mau anaknya ini minum mungkin karena dilihatnya aku sepertinya lelah dan haus. Padahal aku sama sekali nggak haus, tapi lelah iya. Minuman-minuman itu hanya bermain-main saja di tanganku.
            Tiba-tiba gerimis lalu tak sampai satu menit hujan semakin lebat, di tambah lagi badai. Sebuah motor berhenti didekat kami. Pengemudi dan penumpangnya turun dan masuk ke pondok tempat kami berteduh. Bapak mempersilakan kedua orang itu duduk di sebelahnya .  Sementara aku sedikit bergeser ke pinggir pondok. Ku tatap tetes-tetes hujan yang berjatuhan dari pinggir atap pondok. Diam.


            Bapak menyerahkan jaket anti hujannya untuk kupakai. Padahal aku sudah pakai baju panjang di tambah jaket. Aku menolak. Kasihan bapak pikirku. Tapi bapak terus memaksa, kata bapak dia cukup pakai jas hujan saja. Tak lama dikeuarkannya jas hujan dari bawah jok motor. Hari semakin gelap. Walau hujan belum reda, tapi bapak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Takut kemalaman. Hari sudah menunjukkan pukul enam sore, itu artinya  jika kami harus menempuh jarak sekitar tiga jam lagi maka kami baru samapi ke kota sekitar pukul sembilan malam.
            Menerobos hujan, bapak mengendarai motor pelan. Aku yang ada di belakang saja mengigil kedinginan lalu bagaimana dengan bapak yang ada di depan tanyaku. Kasian bapak.
            Sesekali bapak bertanya, mau durian atau mau sate. Beberapa kali pula aku menolak karena tak enak hati sama bapak. Tapi aku galau juga. Jangan-jangan yang mau sate sama durian tu bapak. Mungkin bapak lapar. Tapi kalau kami banyak-banyak singgah itu artinya akan lama pula kami sampai ke kota. Bapak baru saja akan menghentikan motornya, namun aku langsung minta bapak jalan saja. Ah, aku ini bagaiman sih. Bapak kan sudah berniat baik tapi malah aku tolak. Tapi tawaran terakhir bapak untyuk singgah di rumah makan padang tak bisa aku tolak. Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jam-jam makan malam. Ku rasa bapak lapar. Aku iyakan saja ajakannnya.
            Bapak memesan makanan, lalu mengajakku duduk di kursi yang telah disediakan. Kami duduk berhadapan. Ini kali pertama aku makan berhadapan dengan bapak, di rumah makan pula. Kami jarang makan bersama seperti ini. Di rumah pun aku biasa makan di depan televisi sementara bapak makan di meja makan. Bapak makan lahap sekali. Akhirnya bapak bisa makan lahap lagi setelah beberapa bulan terakhir cara makan seperti itu tidak kulihat lagi sejak ibu “pergi”.
            Bapak, jasamu tak terbalas. Tangan-tangan yang dulu kokoh berotot itu semakin kurus saja. Hitam terbakar matahari. Berkarung-karung biji kopi bapak angkat sendiri dari tengah kebun yang jarankanya berkilo-kilo sampai ke halaman dangan. Kerjamu belum selesai, biji-biji kopi itu masih harus dijemur lagi kira-kira dua minggu. Pekerjaan berat.  Caramu mencari nafkah, membuat hatiku bergidik akdang perih hati ku rasa.
            Bapak, aku ingin menabung supaya kita bisa tawaf sama-sama di ka’bah, sujud sama-sama di masjidil haram. Aku ingat bapak membeli lukisan Ka’bah yang sedang dikelilingi jutaan orang, terpajang di ruang nonton. Bapak, do’akan agar kita bisa ke sana sama-sama, ya.. aamiin.
            Tiga puluh menit kemudian makanan kami pun habis. Kami pun melanjitkan perjalanan kembali. Hujan sudah lama berhenti. Bapak melepas jas hujannya. Aku pun melepas jaket bapak yang kupakai dan menyerahkannya ke bapak. Walau bapak sempat menolak tapi aku tetap memaksa. Akhirnya bapak mau juga memakai jaketnya kembali. Senyumnya tegas.
            Itulah kisah perjalanan panjangku bersama bapak. Dari Padang guci ke Bengkulu jam 15.30-22.00 WIB. Di bawah guyuran hujan dan malam yang dingin.
            Bapak, we LOVE you forever...
            Teruntuk my single parents...

Konvoi Lebaran ke Pino


Awalnya nggak diizinkan bawa motor sendiri dari kota Bengkulu ke Pino (kabupaten Manna) yang jauhnya kira-kira empat jam perjalanan. Jalanan ramai karena orang mudik dan yang kembali ke kota mondar-mandir. Medannya yang penuh liku dan jalanan yang berbahaya. Tapi karena lobbi kakak akhirnya Ayah mengizinkan.

Seru ternyata lewat jalan berliku, nyalip mobil dan motor. Walau pernah ketika di tikungan malah kelewatan hampir masuk halaman rumah orang (hehehe..) atau ketika lagi asyik-asyiknya ngebut ternyata jalannya bergelombang (ngerem mendadak0, belum lagi kalau ada lubang... hemm.. bahay banget lah, Tapi Allah masih beri aku kesempatan. Jadilah sehat wal afiat sampai tujuan..

Konfoi bareng adik dan kakak. Berenti di bendungan Seluma. Bendungan besar, panjang dan derasss.. Hemm, udah banyak makan korban. Sebagian besar anak-anak. Ngeri juga.. Kalau yang sekedar main aja bisa mati apalagi tukang-tukang yang membangun bendungan itu ya?? (Orang Indonesia, orang pribumi... Ku rasa dibangun waktu zaman penjajahan Belanda)..


Berenti lagi di rumah saudara (mertua sepupu).. Rumah kayu dua tingkat di tikungan itu, rumah lama. Banyak ruangannya. Kerasa banget aura-aura zaman dulu.. Rumah ini pernah berjaya..

Yang ketiga berenti di Pantai.. Pantai Maras. Yang menakjubkan, bukan karena air pantainya, ombaknya atau pasirnya.. Tapi karena tumpukan batu-batu cantik yang membentengi aliran air pantai ke darat...
Hemm batu-batu yang cantik.. kami terpukau, duduk di atas batu. Adik seluncuran di tebing batu.. oalah kayak anak kecil aja, tapi emang gitu caranya kalau mau menuruni tebing batu itu..( aku juga ikut-ikutan,,^^)..

Ayah menyusul, ikut ngumpulin batu-batu waktu lihat aku mengumpulkan batu-batu cantik.. Cari yang unik kata Ayah.. Huaaa.. seruu.. Ayah dapet banyak batu yang unik, kalau lihat ayah gitu jadi kayak lihat ayah kecil..^^

Sampai di Pino ketemu kakak hati jadi senang, 8 Bulan (atau setahun lebih ya??? Lupa, hehe) nggak ketemu kakak udah banyak perubahan.. si Daffa yang adem ayem di dalam perutnya lah yang membuat wanita berumur 27 tahun itu tampak genduut.. Bengkak sana-sini.. Hihihi.. lucu..

Pasti kakak capek banget ya kalau lagi hamil, nggak bisa dititip-titip. kemana-mana di bawa.. Belum lagi kalau Rahman kecil (1,5 tahun) anak kakak iparnya itu bergelayutan di kakinya atau tangannya, atau dengan manjanya minta gendong. Hemm kakak yang lagi hamil tua nggak bisa menolak. Si rahman imut nan lucu itu sih masih mending, nah kalo abangnya yang lebih tua satu tahun darinya lebih bawel lagi.. Apa-apa di lempar, pernah kakak di lepar pakai sendok. Untung nggak kena perut buncitnya. Mungkin daffa yanga ada di dalem  udah ngomel-ngomel kali ya karena ibunya digituin..(hehehe)..

Tapi Rahman dan Hakim anak baik kok, kecuali nih ya pas sholat.. Pernah kami sholat jama'ah sekeluarga. Sebelum sholat kakak udah ngingetin hati-hati ntar kalau ditarik mukenanya. Aku yang liat Rahman duduk manis dan Hakim yang sudah berdiri siap di atas sajadah kecilnya sedikit nggak percaya. Masa iya mereka ganggu-ganggu orang sholat?? Mereka imut-imut dan adem ayem gitu kok.. tapi nih, baru rakaat pertama ketika Bapak Mertua kakak lagi baca ayat pendek Hakim dan Rahman udah kejar-kejaran di atas sajadah kami.. Bener-bener beda sikap mereka sebelum kami Takbir tadi.. Mukena aku ditari-tarik. Si Rahman malah gelayutan di mukenaku dan kakak yang ada disebelah kananku. Aku tahan. Tapi pas sujud kepala kakak ku yang lain yang ada di sebelah kiriku malah diinjak sama Rahman. ya ampun.. ni anak unyil nggemesin bangeet... hemm, gini kali ya waktu Rasulullah digangguin gini sama cucu-cucunya waktu lagi sholat..

Karena jama'ah jadi nggak mungkin nunggu si Rahman beranjak dari kepala kakak. Ah, lucu pokoknya shola maghrib kali itu.. Kalau pas lagi sholat di kamar pasti rahman buka-buka gorden. tahu aja orang lagi sholat..

Ya.. itulah kisah kecil liburan di Pino...

Nggak ada manfaatnya ya cerita ini?? Hemm, aku cuma mau cerita aja. Semoga cerita kecil ini bisa mewakili isi hatiku...

Muhammad Daffa Pratama

Muhammad Daffa Pratama
Tinggal menunggu hari, kau hadir ke dunia...
Semoga kamu sehat-sehat aja ya Daffa, ibumu juga..

Jadi ikhwan cilik yang mengembalikan senyum di rumah kakeknya..
Kalau neneknya masih hidup Daffa pasti jadi cucu kesayangan..

Daffa, yang sabar ya..
Jangan repotkan ibumu..
Jadi anak yang baik, yang sholeh..

Daffa akan menyandang nama manusia teladan, Kekasih Allah..
Jadikan lah Rasulullah sebagai teladanmu, ya Nak..

Daffa cilik..
Ummi merindukanmu..
Pengen lihat kaki-kaki kecilmu melangkahi marmer-marmer putih ruang tamu..
Memainkan terali pintu..
Berlari kecil di teras ..
Bersama Hakim dan Rahman...

Daffa, I miss You...

Nasehat sebelum pertemuan...

Dulu di minta untuk mengaplikasikan QS. Al-Ahzab : 32 yang artinyanya :

"Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemahlembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik."

Melemahlembutkan suara maksudnya berbicara dengan sikap yang menimbulkan orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Sementara orang yang ada penyakit dalam hatinya maksudnya orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan perempuan seperti melakukan zina...

Ayat itu benar-benar jadi renungan, timbul pertanyaan memangnya kapan aku bersuara lemahlembut begitu ke lawan jenis??? Atau pernahkah kata-kataku menimbulkan hasrat bagi mereka (laki-laki) ?? Mungkin iya..mungkin pernah.. Astaghfirullah, aku telah menjadi fitnah kah, bagi mereka??? Wanita... fitnah bagi laki-laki.. Tapi kenapa harus aku?? Tidak sukseskah aku menjaga hijab selama ini??? Ya Rabb... Ampuni hamba..

Kali ini ketika diri sudah duduk di mesjid, bukannya ditanya kenapa terlambat tapi saya malah di tanya sudah sholat tahiyatul Masjid??...

Sudah duduk memangnya boleh?? bukannya sholat dua rakaat ketika memasuki mesjid itu boleh dilakukan sebelum kita duduk?? Tapi kata teman itu boleh...

Adapun dalilnya yaitu..
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika itu sedang khotbah jum'at, kemudian ada orang datang terlambat langsung duduk, kemudian Rasulullah berhenti khutbah dan berkata pada orang itu untuk bangun mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat (tahiyatul masjid)..

Hmm, akhirnya diri ini berdiri lalu balik badan ke arah tempat wudhu. Sambil berbicara sendiri.."karena Allah bukan karena dia.."

BTW, tentang dalil itu, ada kata terlamabat. Ugh, di singgung juga keterlambatan saya... Bukan salah angkot yang ngetem dulu nunggu penumpang sampai kursinya penuh, salah saya yang masak dulu buat makan siang karena kalau beli malas jalan apalagi kalau sampai ketemu cowok-cowok anak kos-kosan yang biasanya bejubel ngantri beli sambal... Hupf.. males banget diliatin, atau kalau nggak diliatin minimal berbaur dengan mereka, biasanya aku berdiri jauh di belakang atau jauh di samping mereka.. ngantri paling akhir meski datangnya duluan...

Kalau janji kok temanku itu on time banget, atau jangan-jangan dia udah nunggu sebelum waktu yang ditentukan ya..??? Hemm,,,

Aku Masih...

Aku masih seorang muslimah yang tahu izzah dan iffah, masih terus berusaha mengaplikasikan ilmunya.

Aku masih seorang akhwat yang berusaha selalu taat pada Rabbnya.

Aku masih seorang anak yang mau senantiasa berbakti pada orangtuanya dan ingin membahagiakn mereka.

Aku masih seorang adik yang menghormati kakanya, masih seorang kakak yang menyayangi adiknya.

Aku mahasiswi yang ingin menjadi sarjana..